Lingkungan Nabire
Beranda / Nabire / BMKG: Potensi Kekeringan di Nabire Masih Tinggi hingga September

BMKG: Potensi Kekeringan di Nabire Masih Tinggi hingga September

NABIRE, PapuaTengah.news – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan potensi kekeringan di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, masih cukup tinggi hingga September 2026. Kondisi tersebut berisiko memengaruhi ketersediaan sumber air bersih masyarakat akibat rendahnya curah hujan.

Kepala BMKG Nabire, Husain Kamadi, mengatakan curah hujan di Nabire hingga akhir September diprakirakan berada pada kisaran 0–50 milimeter per bulan.

“Kondisi tersebut merupakan dampak fenomena El Nino sangat kuat yang menyebabkan curah hujan di wilayah Papua Tengah berkurang,” ujar Husain di Nabire, Selasa (1/9/2026).

Meski berada dalam pengaruh El Nino sangat kuat, Nabire dan sejumlah wilayah Papua Tengah masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Kondisi tersebut dipengaruhi karakteristik iklim Papua Tengah yang berbeda dengan wilayah lain di Indonesia, termasuk faktor topografi ekstrem dan pengaruh maritim Samudra Pasifik.

CURAH HUJAN DIPRAKIRAKAN MENINGKAT OKTOBER

Husain menjelaskan curah hujan di Nabire diprakirakan mulai mengalami peningkatan pada Oktober 2026. Namun, peningkatan tersebut belum diperkirakan signifikan karena masih berada dalam pengaruh El Nino.

Empat Fraksi DPRP Papua Barat Dorong Panja Kawal Pemekaran Papua Barat Tengah

Menurutnya, fenomena El Nino di Papua Tengah diprakirakan masih berlangsung hingga awal 2027, dengan intensitas puncak terjadi pada September hingga November 2026.

Sementara itu, proses peluruhan El Nino diprakirakan berlangsung hingga triwulan I 2027.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat diminta melakukan langkah antisipasi terhadap kemungkinan berkurangnya ketersediaan air selama periode kekeringan.

MASYARAKAT DIMINTA HEMAT AIR

BMKG mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air semaksimal mungkin, khususnya selama curah hujan masih berada pada kondisi rendah.

“Untuk potensi kekeringan tadi kami sampaikan masih akan berlangsung sampai dengan bulan September. Untuk itu masyarakat tetap menjaga, tetap mengurangi penggunaan air dengan semaksimal mungkin,” kata Husain.

Kejari Mimika Eksekusi Uang Rp5,43 Miliar dari Perkara Korupsi Aerosport

Selain berdampak terhadap ketersediaan air bersih, kondisi kering juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran lahan. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah di area terbuka.

Warga juga diingatkan tidak membuang puntung rokok sembarangan karena dapat menjadi pemicu kebakaran di tengah kondisi lingkungan yang kering.

TITIK PANAS SEMPAT CAPAI 1.923

Kondisi kekeringan sebelumnya turut ditandai dengan meningkatnya jumlah titik panas di Papua Tengah.

Pada periode 20–22 Agustus 2026, tercatat sebanyak 1.923 titik panas di wilayah Papua Tengah. Kabupaten Nabire menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni mencapai 1.069 titik.

Namun, hujan yang mengguyur wilayah Nabire pada 28 Agustus 2026 membantu menurunkan jumlah titik panas hingga mencapai nol titik panas.

Inflasi Papua Barat Daya Capai 3,50 Persen pada Agustus 2026

BMKG juga masih memprakirakan adanya potensi hujan di wilayah Nabire dalam sepekan ke depan. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi dampak kekeringan sekaligus menekan potensi kebakaran lahan di wilayah tersebut.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement