MIMIKA, Papuatengah.news – Di banyak kampung pesisir Kabupaten Mimika, memiliki rumah layak huni masih menjadi impian yang belum mudah diwujudkan. Keterbatasan ekonomi, akses pembangunan yang belum merata, serta kondisi geografis yang menantang membuat sebagian masyarakat masih hidup dalam hunian yang jauh dari standar kelayakan.
Namun secercah harapan kini hadir di Kampung Poronggo, Distrik Mimika Barat Tengah, Papua Tengah.
Melalui Program Pemberdayaan Yayasan Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) Tahun 2025, tiga unit rumah layak huni berhasil dibangun untuk warga kampung sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis kebutuhan riil di tingkat kampung.
Program tersebut dilaksanakan oleh Kelompok Kerja (Pokja) Kampung Poronggo dengan fokus membantu warga yang belum memiliki tempat tinggal yang memadai.
Bagi masyarakat pesisir, rumah bukan sekadar bangunan untuk berteduh. Rumah menjadi ruang tumbuh keluarga, tempat anak-anak belajar, sekaligus simbol rasa aman dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Menjawab Kebutuhan Paling Mendasar
Bendahara Pokja Kampung Poronggo, Thimotius Kotouki, menjelaskan bahwa pembangunan rumah dipilih sebagai prioritas setelah melihat kondisi nyata yang dihadapi masyarakat.
Menurutnya, kebutuhan akan hunian layak masih menjadi persoalan mendasar yang harus segera ditangani.
“Kami melihat kebutuhan paling mendesak adalah rumah, karena masih banyak warga yang belum memiliki tempat tinggal,” ujar Thimotius saat menyampaikan laporan kepada tim monitoring dan evaluasi YPMAK.
Awalnya, program tersebut hanya menargetkan pembangunan dua unit rumah sesuai kemampuan anggaran yang tersedia. Namun berkat efisiensi pelaksanaan dan pengelolaan dana yang baik, Pokja mampu menambah satu unit rumah lagi sehingga total menjadi tiga unit.
Langkah tersebut memungkinkan manfaat program dirasakan lebih banyak warga dan menunjukkan bahwa pengelolaan program di tingkat kampung dapat berjalan efektif ketika dilakukan secara tepat sasaran.
Rumah yang Mengubah Kehidupan
Tiga warga yang menerima manfaat program tersebut adalah Daniel Maturani, Levinus Maturani, dan Bernardus Uramata.
Bagi mereka, rumah yang kini berdiri bukan hanya bangunan fisik, melainkan simbol perubahan kehidupan.
Setelah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan, mereka kini memiliki tempat tinggal yang lebih aman dan layak bagi keluarga.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada PT Freeport Indonesia yang telah menyalurkan anggaran melalui YPMAK hingga kami bisa memiliki rumah,” kata Daniel Maturani.
Ungkapan syukur itu menggambarkan betapa besar arti sebuah rumah bagi masyarakat yang selama ini berjuang memenuhi kebutuhan dasar keluarganya.
Di wilayah pesisir Mimika, persoalan hunian memang masih menjadi tantangan serius. Banyak warga menghadapi keterbatasan untuk membangun rumah permanen secara mandiri karena faktor ekonomi maupun akses material bangunan.
Karena itu, program pemberdayaan berbasis kampung seperti yang dijalankan YPMAK dinilai mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih tepat karena melibatkan warga dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan.
Transparansi Jadi Kunci Keberhasilan
Di balik keberhasilan pembangunan rumah tersebut, terdapat catatan penting terkait tata kelola program yang perlu terus diperbaiki.
Kepala Kampung Poronggo, Timotius Atapea, mengapresiasi dampak positif program bagi masyarakat. Namun ia mengingatkan pentingnya transparansi dan keterbukaan dalam pengelolaan program agar manfaatnya dapat diterima secara adil dan tidak menimbulkan persoalan sosial di tengah masyarakat.
“Pokja masih perlu dibenahi, terutama dalam hal transparansi. Masih ada kecemburuan dan kecurigaan di tengah masyarakat. Ini perlu menjadi perhatian YPMAK,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari jumlah rumah yang berdiri, tetapi juga dari proses pelaksanaannya yang harus akuntabel dan melibatkan masyarakat secara terbuka.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan berbasis masyarakat memerlukan keseimbangan antara hasil fisik dan tata kelola yang baik.
Membangun Lebih dari Sekadar Rumah
Program pembangunan rumah layak huni di Kampung Poronggo menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari kebutuhan paling mendasar.
Ketika sebuah keluarga memiliki tempat tinggal yang aman dan layak, terbuka peluang yang lebih besar untuk meningkatkan kesehatan, pendidikan anak, serta kesejahteraan keluarga secara keseluruhan.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan di wilayah pesisir Mimika, tiga rumah yang berdiri di Kampung Poronggo bukan sekadar bangunan baru. Rumah-rumah itu menjadi simbol harapan, kemandirian, dan bukti bahwa pembangunan yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung mampu menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan warga.
(Papuatengah.news)

Komentar