NABIRE, PapuaTengah.news – Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan memperoleh bantuan sebanyak 3 juta tanaman kakao dari Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan untuk Tahun Anggaran 2026. Bantuan tersebut diprioritaskan bagi kelompok tani kakao di Kabupaten Nabire guna memperluas pengembangan komoditas perkebunan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Papua Tengah, drh. Rafael Heri Nugroho, S.KH, menjelaskan bahwa jutaan bibit kakao tersebut saat ini masih dalam tahap persemaian atau nursery. Penyaluran kepada kelompok tani yang telah memenuhi persyaratan ditargetkan mulai dilaksanakan pada akhir 2026.
“Saat ini masih di nursery, tahapan persemaian. Kami harapkan di akhir tahun ini akan disalurkan atau diberikan kepada kelompok-kelompok petani kakao yang ada di Kabupaten Nabire,” ujar Rafael saat ditemui seusai pembukaan Festival Kopi Papua Tengah di Aula KSK Bukit Meriam, Kabupaten Nabire, Kamis (29/10/2026).
SIAPKAN LAHAN PERSEMAIAN SELUAS 5 HEKTARE
Untuk mendukung pengelolaan jutaan bibit kakao tersebut, Pemerintah Provinsi Papua Tengah telah menyiapkan lahan persemaian seluas kurang lebih 5 hektare di wilayah Samabusa, Kabupaten Nabire.
Lahan tersebut digunakan untuk menunjang proses pembibitan dan pemeliharaan tanaman sebelum didistribusikan kepada kelompok tani penerima manfaat.
Penyiapan fasilitas persemaian menjadi salah satu tahapan penting untuk memastikan bibit dapat tumbuh dan dipelihara dengan baik sebelum ditanam di lahan perkebunan milik masyarakat.
Dengan dukungan fasilitas tersebut, pemerintah berharap proses penyiapan bibit dapat berjalan lebih optimal sehingga bantuan yang diberikan nantinya mampu mendukung pengembangan perkebunan kakao secara berkelanjutan.
VERIFIKASI KELOMPOK TANI PENERIMA BANTUAN
Selain menyiapkan lokasi persemaian, pemerintah juga melakukan verifikasi terhadap calon kelompok tani penerima bantuan. Proses tersebut melibatkan Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Papua Tengah, Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Nabire, serta pihak BRP.
Verifikasi dilakukan untuk memastikan bantuan bibit kakao disalurkan secara tepat sasaran kepada kelompok tani yang memenuhi persyaratan dan memiliki kesiapan dalam mengembangkan komoditas tersebut.
Melalui tahapan ini, pemerintah ingin memastikan bantuan tidak hanya tersalurkan, tetapi juga dapat dikelola secara produktif oleh masyarakat.
Kesiapan kelompok tani dalam mengelola lahan dan merawat tanaman menjadi faktor penting agar program pengembangan kakao dapat memberikan hasil sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
NABIRE DITARGETKAN MENJADI SENTRA KAKAO
Pemerintah Provinsi Papua Tengah menaruh harapan besar terhadap pengembangan perkebunan kakao melalui bantuan 3 juta tanaman tersebut.
Dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun ke depan, Kabupaten Nabire diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu sentra produksi kakao utama di Papua Tengah.
Pengembangan ini tidak hanya diarahkan untuk memperluas areal perkebunan, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan petani, memperkuat perekonomian masyarakat, serta mendorong tumbuhnya usaha perkebunan yang berkelanjutan.
Potensi kakao sebagai komoditas bernilai ekonomi dinilai dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan ekonomi kerakyatan apabila didukung dengan ketersediaan bibit, pembinaan, dan pengelolaan perkebunan yang baik.
Karena itu, keterlibatan kelompok tani menjadi bagian penting dalam memastikan program tersebut berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
KOPI ROBUSTA DAN ARABIKA JUGA TERUS DIKEMBANGKAN
Selain kakao, Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga terus mendorong pengembangan komoditas kopi yang menjadi salah satu program prioritas Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa.
Menurut Rafael, wilayah Papua Tengah memiliki potensi besar untuk pengembangan kopi karena karakteristik geografisnya memungkinkan budidaya dua jenis kopi utama, yakni robusta dan arabika.
Kopi robusta diarahkan untuk dikembangkan di wilayah dataran rendah, seperti Kabupaten Nabire dan Mimika. Sementara itu, kopi arabika berpotensi dikembangkan di wilayah dataran tinggi, meliputi Kabupaten Deiyai, Dogiyai, Paniai, Intan Jaya, dan Puncak.
Pembagian pengembangan komoditas tersebut disesuaikan dengan karakteristik wilayah agar tanaman dapat tumbuh secara optimal dan menghasilkan produk yang berkualitas.
Pengembangan kopi dan kakao secara bersamaan diharapkan mampu memperkuat sektor perkebunan sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat Papua Tengah.
Melalui dukungan bantuan bibit, pembinaan petani, serta pengembangan komoditas yang sesuai dengan kondisi geografis masing-masing wilayah, Pemerintah Provinsi Papua Tengah optimistis sektor perkebunan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan petani di delapan kabupaten.
Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mengoptimalkan potensi sumber daya lokal, memperkuat ekonomi masyarakat, dan membangun sektor perkebunan yang produktif serta berkelanjutan.

Komentar