MANOKWARI, Papuatengah.news – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mengembangkan konsep ekowisata berbasis mitigasi bencana di Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Program tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan potensi wisata sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman bencana.
Ketua Tim Kelompok VI TEP Unair, Neffrety Nilamsari di Manokwari, Kamis, mengatakan pengembangan ekowisata dilakukan dengan mengintegrasikan aspek mitigasi bencana, perlindungan infrastruktur, keberlanjutan lingkungan serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Program ini menggunakan pendekatan mitigasi bencana berbasis komunitas. Masyarakat tidak hanya jadi penerima manfaat, tetapi selalu siap siaga dan mampu mengenali risiko,” ujarnya.
Prafi Miliki Potensi Ekowisata
Neffrety menjelaskan Distrik Prafi merupakan salah satu kawasan transmigrasi di Kabupaten Manokwari yang memiliki beragam potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata.
Potensi tersebut meliputi sumber daya alam, sungai, lahan pertanian serta berbagai kesenian dan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat setempat.
Namun, kawasan tersebut juga memiliki sejumlah tantangan berupa ancaman banjir dan tanah longsor yang berpotensi mengganggu infrastruktur, akses transportasi serta aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Karena itu, pengembangan sektor pariwisata tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan daya tarik kawasan, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek keselamatan, ketangguhan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
“Pengembangan ekowisata diarahkan untuk memperhatikan aspek keselamatan ketangguhan masyarakat, perlindungan infrastruktur, dan keberlanjutan lingkungan,” katanya.
Perkuat Kesiapsiagaan Masyarakat
Sebelum melakukan asesmen dan intervensi pembangunan, TEP Unair terlebih dahulu memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai potensi risiko bencana di wilayah Prafi.
Tahapan berikutnya meliputi pemetaan kawasan rawan banjir dan tanah longsor, pembentukan serta pelatihan kader desa tangguh bencana dan pengembangan sistem deteksi dini berbasis masyarakat.
Tim juga akan mendorong penyediaan sarana pertolongan pertama, penyusunan modul mitigasi, pelatihan evakuasi hingga pelaksanaan simulasi kebencanaan.
Selain itu, perlindungan terhadap infrastruktur akan dilakukan dengan memanfaatkan vegetasi lokal sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus mengurangi potensi dampak bencana.
“Setelah edukasi dan sosialisasi, tim kami melanjutkan dengan kegiatan teknis yang lebih lanjut,” ujar Neffrety.
Dorong Pemberdayaan Ekonomi
Pengembangan ekowisata di Prafi juga dirancang untuk memberikan dampak ekonomi langsung kepada masyarakat melalui pembentukan kelompok sadar wisata (Pokdarwis).
Kelompok tersebut nantinya diharapkan dapat berperan dalam pengelolaan kawasan wisata secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat setempat.
Selain pengelolaan destinasi, masyarakat akan diberikan pelatihan untuk mengembangkan berbagai produk unggulan yang dapat menjadi bagian dari pendukung kegiatan ekowisata.
Beberapa produk yang dikembangkan antara lain keripik selimut serta lilin aromaterapi yang dibuat dari minyak jelantah.
“Masyarakat juga nantinya dilatih mengolah produk unggulan, seperti keripik selimut dan lilin aromaterapi berbahan minyak jelantah sebagai produk pendukung ekowisata,” katanya.
Pemetaan Jadi Dasar Intervensi
Neffrety mengatakan asesmen lapangan menjadi bagian penting sebelum pelaksanaan program secara lebih luas.
Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi titik-titik rawan bencana, memeriksa kondisi infrastruktur serta melakukan pemetaan secara partisipatif bersama masyarakat.
Hasil asesmen nantinya menjadi dasar dalam menentukan lokasi dan bentuk intervensi yang paling dibutuhkan di kawasan Prafi.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan pariwisata diharapkan tidak mengabaikan aspek keselamatan maupun kebutuhan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan wisata.
Libatkan Berbagai Unsur
TEP Unair menerapkan pendekatan pentahelix dengan melibatkan berbagai unsur dalam pelaksanaan program, mulai dari pemerintah daerah, masyarakat, perguruan tinggi, sektor swasta, aparat keamanan hingga media massa.
Kolaborasi tersebut dinilai penting agar pengembangan ekowisata tidak hanya berorientasi pada peningkatan kunjungan wisatawan, tetapi juga mampu memperkuat ketahanan masyarakat dan memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Pada aspek lingkungan, masyarakat juga diperkenalkan dengan pemilahan serta pengolahan sampah menjadi produk bernilai guna, termasuk pengembangan eco-enzyme.
Melalui integrasi antara ekowisata, mitigasi bencana, perlindungan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi, program tersebut diharapkan dapat menjadi model pengembangan kawasan wisata yang aman, tangguh dan memberikan manfaat bagi masyarakat Distrik Prafi.

Komentar