MANOKWARI, Papuatengah.news – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (Unair) Surabaya bersama puluhan mama dari Suku Arfak menyiapkan Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari, sebagai Kampung Dodol Matoa pertama di Provinsi Papua Barat.
Program tersebut dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan pengolahan buah matoa menjadi berbagai produk pangan bernilai ekonomi. Kegiatan berlangsung pada 5–15 Agustus 2026 dengan melibatkan masyarakat setempat secara langsung.
Dosen Unair Surabaya, Zamal Nasution, melalui keterangan resmi di Manokwari, Senin, mengatakan pelatihan dilakukan setiap sore setelah mama-mama Suku Arfak menyelesaikan aktivitas berkebun.
“Pelatihan dan pendampingan pembuatan dodol matoa serta produk turunan lainnya dilakukan setiap sore setelah mama-mama Suku Arfak menyelesaikan kegiatan berkebun,” kata Zamal.
Kembangkan Beragam Olahan Matoa
Dalam pelatihan tersebut, masyarakat tidak hanya diajarkan membuat dodol, tetapi juga mengembangkan berbagai produk turunan berbahan dasar buah matoa.
Sejumlah produk yang berhasil dibuat antara lain dodol bertekstur lembut, selai matoa dengan campuran nanas, es krim, stik renyah, olahan kacang, teh herbal matoa hingga sambal matoa dengan cita rasa pedas manis.
Beragam inovasi tersebut diharapkan membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan matoa tidak hanya sebagai buah konsumsi, tetapi juga sebagai bahan baku produk pangan lokal bernilai tambah.
Manfaatkan Keterampilan Lokal
Zamal menjelaskan proses pelatihan berjalan relatif lancar karena mama-mama Suku Arfak sebelumnya telah memiliki keterampilan mengolah makanan tradisional.
Menurutnya, pengalaman membuat papeda menjadi salah satu faktor yang memudahkan peserta memahami teknik pengolahan dodol dan selai.
“Kemiripan proses itu mempermudah mereka mempelajari teknik pengolahan produk yang baru,” ujarnya.
Keterampilan yang telah dimiliki masyarakat kemudian dikembangkan melalui pendampingan agar dapat menghasilkan produk olahan matoa yang lebih beragam dan memiliki peluang untuk dipasarkan.
Dorong Sentra UMKM Kampung Dodol Matoa
Dalam jangka panjang, program tersebut diarahkan menjadi cikal bakal pembentukan sentra UMKM Kampung Dodol Matoa di Warmare.
Keberadaan sentra tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi buah matoa sebagai salah satu komoditas pangan lokal khas Papua Barat sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Pengembangan usaha berbasis bahan baku lokal juga diharapkan dapat memberikan nilai tambah terhadap hasil perkebunan masyarakat sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh keluarga di kampung.
Dukung Gizi dan Ketahanan Pangan
Program pengolahan matoa tersebut tidak hanya berorientasi pada pengembangan ekonomi masyarakat, tetapi juga diarahkan untuk mendukung pemenuhan gizi anak dan menyediakan alternatif pangan sehat berbahan lokal.
Pemanfaatan bahan pangan lokal diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap makanan olahan pabrik atau ultra-processed food.
Zamal mengatakan kebiasaan mengonsumsi pangan sehat berbasis sumber daya lokal juga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap upaya penanganan masalah gizi di Papua Barat.
“Kebiasaan konsumsi pangan sehat berbahan lokal diharapkan dapat menekan angka gizi buruk, stunting dan malnutrisi di Papua Barat secara berkelanjutan,” katanya.
Kolaborasi untuk Ekonomi Masyarakat
Kolaborasi antara Tim Ekspedisi Patriot Unair dan mama-mama Suku Arfak di Distrik Warmare menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya alam lokal dapat dikembangkan secara terpadu untuk mendukung ekonomi, ketahanan pangan, sekaligus pemenuhan gizi masyarakat.
Program tersebut diharapkan terus berkembang sehingga keterampilan yang diperoleh masyarakat dapat diterapkan secara mandiri dan menjadi bagian dari kegiatan ekonomi produktif di kampung.
“Kami berharap program ini bisa memberikan manfaat jangka panjang melalui pemanfaatan kekayaan sumber daya alam dan kearifan lokal,” ujar Zamal.
Pengembangan Kampung Dodol Matoa di Warmare diharapkan menjadi langkah awal dalam menciptakan produk pangan khas Papua Barat yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperkuat peran masyarakat lokal dalam pengelolaan potensi daerah.

Komentar