Lingkungan
Beranda / Lingkungan / BPS: Papua Tengah Alami Deflasi 0,17 Persen pada Juli 2026, Dipicu Melimpahnya Pasokan Hortikultura

BPS: Papua Tengah Alami Deflasi 0,17 Persen pada Juli 2026, Dipicu Melimpahnya Pasokan Hortikultura

NABIRE, Papuatengah.news — Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut Provinsi Papua Tengah mengalami deflasi sebesar 0,17 persen secara bulanan (month-to-month) pada Juli 2026. Penurunan harga tersebut dipengaruhi melimpahnya pasokan komoditas hortikultura akibat panen lebih awal yang dipicu musim kemarau berkepanjangan atau fenomena El Nino.

Meski mengalami deflasi bulanan, tingkat inflasi tahunan (year-on-year) Papua Tengah tercatat sebesar 2,79 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 1,98 persen, yang masih berada dalam kisaran target inflasi nasional.

Inflasi Papua Tengah Masih Terkendali

Kepala BPS Kabupaten Nabire, Dio Benuvin Perkasa Ginting, mengatakan secara umum kondisi inflasi di Papua Tengah masih terkendali karena berada dalam rentang target nasional sebesar 2,5 persen ± 1 persen.

“Secara umum Papua Tengah masih dalam kondisi terkendali karena inflasi tahunannya masih berada dalam target nasional, yaitu 2,5 persen plus minus satu persen,” ujarnya, Selasa.

Pemprov Papua Barat Siapkan Regulasi Bagi Hasil Pajak Air Permukaan untuk Tujuh Kabupaten

Menurutnya, deflasi yang terjadi bukan disebabkan melemahnya aktivitas ekonomi, melainkan meningkatnya pasokan sejumlah komoditas hortikultura di pasar.

Panen Dini Akibat El Nino Turunkan Harga Hortikultura

BPS menjelaskan bahwa musim kemarau berkepanjangan menyebabkan tanaman hortikultura mengalami percepatan masa panen.

Akibat kondisi tersebut, petani memilih memanen lebih awal untuk menghindari kerugian karena hasil panen berpotensi cepat membusuk akibat cuaca panas.

Komoditas seperti cabai rawit, tomat, dan kacang panjang mengalami peningkatan pasokan di pasar sehingga harga jualnya mengalami penurunan dan menjadi penyumbang utama deflasi pada Juli 2026.

Program Sekolah Sepanjang Hari di SD Negeri/Inpres Nifasi Tunjukkan Perkembangan Positif

“Tomat yang masih kecil sudah matang. Kalau tidak segera dipanen, justru akan cepat busuk karena cuaca panas, sehingga petani memilih memanen lebih awal dan menjualnya dengan harga lebih murah,” jelas Dio.

Cabai Rawit dan Tomat Jadi Penyumbang Deflasi Terbesar

Berdasarkan data BPS, komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar pada Juli 2026 adalah cabai rawit sebesar 0,21 persen, diikuti tomat sebesar 0,19 persen, kacang panjang 0,05 persen, daging babi 0,03 persen, dan angkutan laut sebesar 0,03 persen.

Melimpahnya hasil panen membuat pasokan di pasar meningkat sehingga harga berbagai komoditas tersebut mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

Sejumlah Komoditas Masih Mengalami Kenaikan Harga

Pemkab Mimika Siapkan Perluasan TPU SP 1 Seluas 14 Hektare, Antisipasi Kebutuhan Lahan Pemakaman

Di tengah penurunan harga beberapa komoditas hortikultura, BPS juga mencatat masih terdapat sejumlah barang yang mengalami inflasi.

Komoditas yang memberikan andil kenaikan harga antara lain bensin sebesar 0,07 persen, terong 0,06 persen, tahu mentah 0,06 persen, bawang putih 0,03 persen, serta ikan cakalang sebesar 0,03 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga di Papua Tengah masih dipengaruhi oleh dinamika pasokan dan permintaan masing-masing komoditas.

Pemerintah Diminta Antisipasi Dampak El Nino

Menurut BPS, deflasi tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi yang lebih baik karena penurunan harga dapat terjadi akibat meningkatnya pasokan sementara permintaan relatif tetap atau menurun.

BPS mengingatkan bahwa fenomena panen dini akibat El Nino berpotensi menekan pendapatan petani apabila berlangsung dalam waktu yang lama.

Karena itu, pemerintah daerah diharapkan memperhatikan kondisi irigasi dan ketersediaan air pada sentra-sentra produksi pertanian yang mulai terdampak musim kemarau.

“Kami merekomendasikan pemerintah terus memperhatikan informasi BMKG dan menyiapkan sumber-sumber air bagi petani. Kalau irigasi mulai kering, biaya produksi petani akan meningkat sementara harga hasil panen justru turun,” kata Dio.

Selain itu, koordinasi lintas instansi dinilai penting untuk mengantisipasi dampak kemarau terhadap sektor pertanian sehingga produksi pangan tetap terjaga, stabilitas harga dapat dipertahankan, serta pendapatan petani di Papua Tengah tetap terlindungi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement