Nabire – Wakil Bupati Nabire, Burhanuddin Pawennari, secara resmi menyalakan Obor Pattimura dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Perjuangan Thomas Matulessy ke-209 di Kabupaten Nabire, Jumat (15/5/2026).
Prosesi penyalaan obor berlangsung di Tugu Pattimura Nabire dan disaksikan masyarakat serta keluarga besar Maluku di Nabire. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pawai obor dan pembacaan sejarah perjuangan Kapitan Pattimura yang berlangsung penuh semangat persaudaraan dan nasionalisme.
Dalam sambutannya, Burhanuddin Pawennari mengatakan dirinya mewakili Bupati Nabire dan seluruh masyarakat untuk menyalakan Obor Pattimura sebagai simbol bahwa semangat perjuangan Pattimura masih terus hidup hingga saat ini.
“Pada sore hari ini, Jumat 15 Mei 2026, saya menyalakan Obor Pattimura sebagai simbol bahwa Pattimura, jiwa Pattimura tetap berkobar, tetap semangat, dan tetap berada di hati kita semua,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Maluku atas kontribusi dan partisipasi mereka dalam pembangunan di Kabupaten Nabire.
Menurutnya, keberadaan Tugu Pattimura yang masih berdiri kokoh dan terawat menjadi bukti bahwa nilai perjuangan Pattimura tetap dijaga dan dihormati oleh masyarakat.
“Kita punya saudara-saudara dari Maluku. Tentunya partisipasi dan sumbangsih dalam pembangunan di Kabupaten Nabire oleh masyarakat Maluku sangat luar biasa. Terbukti hari ini tugu masih berdiri tegak, masih berdiri kokoh, masih terawat,” katanya.
Burhanuddin menambahkan bahwa peringatan HUT Pattimura bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum memperkuat persatuan, semangat kebangsaan, dan cinta tanah air.
“Ini bukti bahwa Pahlawan Pattimura masih ada di dada bapak ibu sekalian,” tambahnya.
Sebelum prosesi penyalaan obor dilakukan, panitia terlebih dahulu membacakan riwayat perjuangan Kapitan Pattimura di hadapan peserta pawai obor.
Dalam pembacaan sejarah tersebut dijelaskan bahwa Thomas Matulessy lahir di Negeri Haria, Pulau Saparua, Maluku Tengah, pada 8 Juni 1783 dan dikenal sebagai tokoh utama perlawanan rakyat Maluku terhadap kolonial Belanda pada tahun 1817.
Penderitaan rakyat Maluku akibat monopoli perdagangan, pajak, dan penindasan kolonial mendorong lahirnya perlawanan besar yang dipimpin Pattimura bersama para pejuang lain seperti Martha Christina Tiahahu dan Paulus Tiahahu.
Puncak perjuangan terjadi pada 15 hingga 16 Mei 1817 ketika pasukan rakyat Saparua berhasil merebut Benteng Duurstede dari tangan Belanda.
Namun setelah pertempuran panjang, Belanda kembali melakukan operasi militer besar-besaran hingga akhirnya Pattimura ditangkap dan dihukum gantung di depan Benteng Victoria pada 16 Desember 1817.
Dalam pembacaan sejarah perjuangan tersebut juga disampaikan pesan legendaris Pattimura yang hingga kini terus dikenang masyarakat Maluku:
“Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi Pattimura-Pattimura muda akan bangkit.”
Pesan itu menjadi simbol bahwa semangat perjuangan dan cinta tanah air tidak akan pernah padam meski zaman terus berubah.
Peringatan HUT Pattimura ke-209 di Nabire berlangsung penuh khidmat dan kebersamaan. Masyarakat Maluku di Tanah Papua memanfaatkan momentum tersebut untuk mempererat persaudaraan sekaligus mengenang jasa perjuangan Kapitan Pattimura sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia.
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa perjuangannya, pemerintah Republik Indonesia menetapkan Thomas Matulessy Kapitan Pattimura sebagai Pahlawan Nasional. Namanya kini diabadikan dalam berbagai fasilitas publik seperti Universitas Pattimura dan Bandara Pattimura.

Komentar