Papua – Aktivis HAM Papua, Selpius Bobii, menyerukan penghentian perang suku yang masih terjadi di sejumlah wilayah di Tanah Papua, khususnya kawasan Lapago dan Meepago.
Dalam seruan tertulis yang disampaikan Jumat (15/5/2026), Selpius menilai perang suku merupakan kebiasaan lama yang bertentangan dengan nilai Hak Asasi Manusia (HAM), ajaran Injil, serta budaya Papua yang menjunjung tinggi kehidupan manusia.
“Perang suku adalah kebiasaan lama yang sangat kontras dengan nilai-nilai luhur yaitu Hak Asasi Manusia dan Injil,” katanya.
Menurut Selpius, hak hidup merupakan hak dasar setiap manusia yang tidak dapat dicabut oleh siapa pun dengan alasan apa pun. Ia menegaskan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang harus dihormati martabat dan kehidupannya.
Ia juga mengajak masyarakat Papua menghentikan konflik horizontal yang dinilai hanya membawa kerugian bagi orang Papua sendiri.
“Pihak lain sedang menertawakan kita. Karena perang suku menguntungkan pihak musuh kolonial Indonesia,” ujarnya.
Selpius mengingatkan pentingnya membangun kembali persaudaraan sesama orang Papua ras Melanesia yang rusak akibat konflik dan perang suku yang berkepanjangan.
Menurutnya, persatuan menjadi kunci untuk menjaga keberlangsungan etnis Papua di tengah berbagai persoalan sosial, politik, dan ekonomi yang dihadapi masyarakat Papua saat ini.
“Padamkan kobaran api kebencian di dalam hati kita, dan marilah kita merajut kembali persaudaraan dan persatuan untuk selamatkan etnis Papua yang tersisa dari kepunahan,” pungkasnya.
Ia menutup seruannya dengan mengajak seluruh masyarakat menjaga kedamaian, persatuan, dan kehidupan harmonis di seluruh Tanah Papua.

Komentar