Nabire – Semangat gotong royong dan kecintaan terhadap kampung halaman mendorong warga Kampung Mabou membangun akses jalan utama secara swadaya demi keluar dari keterisolasian.
Pembangunan jalan dilakukan di jalur Trans Nabire Kilometer 161 bagian barat, dengan target panjang sekitar 25 kilometer yang akan menghubungkan kampung dengan pusat kota di Kabupaten Nabire. Seluruh pembiayaan dihimpun secara mandiri melalui kerja sama masyarakat.
Selama puluhan tahun, warga hanya mengandalkan jalan setapak yang melintasi hutan dan jurang terjal. Kondisi tersebut menyulitkan mobilitas, distribusi hasil bumi, hingga akses pendidikan dan layanan kesehatan.
Kepala Kampung Mabou, Yesaya Donei, menegaskan pembangunan jalan ini merupakan kebutuhan mendesak.
“Perjalanan sangat berat, hasil bumi sulit dibawa keluar, anak-anak kesulitan ke sekolah, dan warga sakit sulit mendapat layanan kesehatan. Ini menghambat kemajuan kami,” ujarnya.
Di tengah upaya pembangunan, Yesaya juga menegaskan larangan keras kepada pihak mana pun yang mengatasnamakan kampung untuk meminta sumbangan tanpa persetujuan warga.
“Kami tegaskan, tidak ada yang berhak menggunakan nama kampung ini untuk kepentingan pribadi. Semua dilakukan secara transparan dan bersama,” tegasnya.
Kampung Mabou yang dihuni sekitar 500 jiwa dari 80 kepala keluarga menggantungkan hidup pada hasil hutan, berburu, dan berkebun. Salah satu komoditas unggulan adalah kacang tanah, namun sering terkendala distribusi akibat sulitnya akses menuju pasar di Moanemani maupun Kota Nabire.
Menurut Yesaya, pembangunan jalan menjadi fondasi penting untuk membuka peluang ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kalau jalan terbuka, ekonomi ikut bergerak. Ini tentang masa depan anak-anak kami,” katanya.
Untuk mempercepat pembangunan, warga bahkan menyewa alat berat berupa ekskavator, meski sebelumnya telah mengajukan permohonan bantuan ke instansi terkait namun belum mendapat respons.
Tokoh masyarakat, Demianus Donei, menyebut akses jalan layak merupakan harapan turun-temurun warga.
“Setiap batu yang kami susun adalah bukti cinta pada kampung ini. Kami berharap pemerintah hadir melanjutkan apa yang sudah kami mulai,” ungkapnya.
Dengan kondisi geografis pegunungan yang terjal, pembangunan jalan ini menjadi langkah krusial untuk membuka akses ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan, sekaligus mengakhiri isolasi panjang yang selama ini dialami warga Kampung Mabou.

Komentar