Mimika – Ribuan umat Katolik di wilayah Keuskupan Timika mengikuti perayaan Minggu Palma, Minggu (29/3), sebagai tanda dimulainya rangkaian Pekan Suci.
Salah satu perayaan berlangsung khidmat di Paroki St Sefanus Sempan. Ibadah diawali dengan doa di halaman gereja, dilanjutkan perarakan masuk sambil umat melambaikan daun palma dan menyanyikan lagu rohani.
Misa dipimpin oleh Gabriel Ngga, yang dalam homilinya mengajak umat merenungkan makna mendalam Minggu Palma, yang menghadirkan dua suasana kontras—sorak pujian “Hosana” dan seruan “Salibkan Dia”.
“Dalam kisah sengsara, kita melihat Yesus Kristus tetap setia pada misi-Nya meskipun dikhianati dan ditinggalkan. Ia tidak membalas kekerasan dengan kekerasan,” ujarnya.
Pastor Gaby juga menekankan pesan Injil tentang pentingnya menghentikan kekerasan, dengan mengutip ajakan Yesus kepada murid-Nya untuk memasukkan pedang ke dalam sarungnya.
“Pesan ini sangat relevan bagi kita di Papua. Kita rindu damai, tetapi sering terjebak dalam konflik. Mengikuti Kristus berarti berani memutus rantai kekerasan,” katanya.
Ia mengajak umat untuk mengedepankan dialog, pengampunan, dan rekonsiliasi sebagai jalan menuju perdamaian.
Dalam refleksinya, ia juga menyinggung penderitaan Yesus yang menyatu dengan penderitaan manusia, terutama mereka yang merasa ditinggalkan.
“Yesus tidak meninggalkan kita. Ia hadir dalam setiap perjuangan dan memanggul salib bersama kita,” tuturnya.
Menutup kotbahnya, ia mengingatkan bahwa daun palma melambangkan kemenangan iman atas keputusasaan, sekaligus mengajak umat menjadi pembawa damai dalam kehidupan sehari-hari.
Perayaan Minggu Palma ini menandai dimulainya Pekan Suci yang akan berlanjut dengan Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, hingga puncaknya pada Minggu Paskah.
Melalui rangkaian ini, umat diajak untuk memperdalam iman sekaligus membawa semangat damai, harapan, dan kasih dalam kehidupan, demi terwujudnya Papua yang lebih damai dan bermartabat.

Komentar