
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa realisasi sementara APBN 2025 menunjukkan kinerja yang solid di tengah dinamika global dan domestik yang masih bergejolak. Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers APBN KiTA, Kamis (8/1/2026).
“Dalam kondisi yang volatile, APBN tetap menjadi instrumen kebijakan yang antisipatif dan responsif,” ujar Menkeu.
Hingga akhir 2025, pendapatan negara terealisasi Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari outlook semester. Capaian ini didukung penerimaan perpajakan sebesar Rp2.217,9 triliun, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang melampaui target dengan realisasi Rp534,1 triliun atau 104 persen.
Sementara itu, belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari outlook, terdiri dari belanja pemerintah pusat Rp2.602,3 triliun dan transfer ke daerah Rp849 triliun. Dengan pengelolaan yang terjaga, defisit APBN terkendali di level 2,92 persen PDB atau Rp695,1 triliun, masih di bawah batas aman 3 persen.
Menkeu menjelaskan, kebijakan fiskal 2025 diarahkan untuk memberi stimulus ekonomi di tengah tren perlambatan, sekaligus menjaga stabilitas APBN.
“Kita beri stimulus agar ekonomi tetap berekspansi, tapi defisit tetap dijaga tidak melebihi 3 persen. Ini kebijakan countercyclical yang nyata,” tegasnya.
Ke depan, Menkeu optimistis fondasi ekonomi yang membaik akan mendorong pertumbuhan lebih tinggi pada 2026, dengan target pertumbuhan ekonomi 5,4 persen dan peluang ditekan ke level defisit yang lebih rendah.
APBN akan terus dioptimalkan sebagai shock absorber untuk melindungi daya beli masyarakat dan menjaga stabilitas perekonomian nasional.

Komentar