NABIRE – Kepolisian Resor (Polres) Nabire bersama pihak sekolah melakukan langkah pembinaan terhadap puluhan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) yang diamankan usai mengikuti kegiatan di kawasan Pantai Waroki, Kabupaten Nabire. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya preventif dan edukatif setelah aparat menemukan sejumlah atribut dan barang yang diduga berkaitan dengan aktivitas yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Peristiwa tersebut bermula pada Sabtu (25/7/2026) setelah para pelajar menyelesaikan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah sekitar pukul 11.00 WIT. Tanpa sepengetahuan pihak sekolah maupun orang tua, mereka kemudian menuju kawasan Pantai Waroki untuk mengikuti kegiatan di luar lingkungan sekolah.
Polisi Lakukan Pengamanan Secara Preventif dan Humanis
Wakapolres Nabire, Kompol Dr. Piter Kendek, S.Sos., M.M., menjelaskan bahwa pengamanan dilakukan setelah kepolisian menerima informasi mengenai adanya kegiatan yang berpotensi mengganggu situasi keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurutnya, tindakan yang diambil mengedepankan pendekatan preventif dan humanis.
Dalam kegiatan tersebut, petugas menemukan sejumlah barang berupa dua lembar Bendera Bintang Kejora, satu buah kampak, satu bilah pisau, serta beberapa buku yang diduga memuat materi dengan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Seluruh barang tersebut kemudian diamankan sebagai barang bukti untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.
Pemeriksaan Identifikasi Peran Masing-Masing Pelajar
Sebanyak sekitar 60 pelajar yang berada di lokasi selanjutnya dibawa ke Mapolres Nabire untuk menjalani pemeriksaan dan pendalaman. Dari hasil pemeriksaan, sebagian besar pelajar diketahui tidak memahami adanya agenda tertentu dan mengaku hanya mengikuti kegiatan bersama tanpa mengetahui adanya kelompok yang membawa tujuan berbeda.
Sementara itu, aparat kepolisian mengidentifikasi delapan pelajar yang diduga memiliki peran dalam mengajak rekan-rekannya serta memberikan pemahaman mengenai ideologi yang dinilai bertentangan dengan Pancasila dan NKRI. Terhadap delapan pelajar tersebut dilakukan pemeriksaan lanjutan guna mengetahui keterlibatan masing-masing secara lebih mendalam.
Pelajar Dipulangkan dan Dibina Bersama Orang Tua
Setelah proses pemeriksaan selesai, para pelajar yang dinilai tidak memiliki keterkaitan langsung dengan kegiatan tersebut dipulangkan pada hari yang sama dengan disaksikan pihak sekolah melalui penandatanganan surat pernyataan.
Adapun delapan pelajar yang menjalani pemeriksaan lanjutan juga telah dipulangkan kepada orang tua pada hari berikutnya setelah proses klarifikasi selesai. Mereka diminta membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatan serupa di kemudian hari sebagai bagian dari proses pembinaan.
Sekolah Tegaskan Kegiatan Bukan Program Resmi
Kepala SMA YPK Tabernakel Nabire, Drs. Suardiman Dayadi, M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan yang diikuti para pelajar tersebut berlangsung di luar lingkungan sekolah dan bukan merupakan bagian dari program resmi sekolah.
Menurutnya, sekolah hanya mengakui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebagai organisasi resmi dalam pembinaan peserta didik. Pihak sekolah menduga sebagian siswa direkrut ke dalam organisasi di luar sekolah tanpa sepengetahuan pihak sekolah.
Sebagai tindak lanjut, sekolah akan memberikan pembinaan melalui pemanggilan orang tua, pembuatan surat pernyataan, serta pendampingan intensif kepada para siswa. Apabila di kemudian hari terjadi pelanggaran serupa, sekolah akan mengambil langkah sesuai tata tertib yang berlaku, termasuk mengembalikan siswa kepada orang tua.
Perkuat Pendidikan Karakter dan Wawasan Kebangsaan
Pihak sekolah menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pendidikan karakter, nasionalisme, dan wawasan kebangsaan melalui pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), pendidikan agama, serta berbagai kegiatan pembinaan di lingkungan sekolah.
Selain itu, orang tua diimbau untuk meningkatkan komunikasi dan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak di luar sekolah agar tidak mudah terpengaruh oleh pihak-pihak yang dapat memberikan pengaruh negatif terhadap perkembangan mereka.
Melalui koordinasi dan klarifikasi bersama, Polres Nabire dan SMA YPK Tabernakel berharap masyarakat memperoleh informasi yang utuh mengenai peristiwa tersebut serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Kedua pihak juga menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dalam melakukan pembinaan terhadap generasi muda melalui pendekatan edukatif, humanis, serta berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Komentar