NABIRE, PapuaTengah.news – PT PLN (Persero) menyiapkan investasi sebesar Rp3,58 triliun hingga 2029 untuk memperluas jaringan dan infrastruktur kelistrikan di lima kabupaten Papua Tengah yang berada dalam wilayah kerja Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Nabire.
Investasi tersebut diarahkan untuk mendukung pemerataan akses listrik pada 969 titik desa terpencil yang tersebar di Kabupaten Nabire, Paniai, Deiyai, Dogiyai dan Intan Jaya.
Asisten Manajer Perencanaan PLN UP3 Nabire, Alfonso Hasian, di Nabire, Jumat, mengatakan perluasan jaringan listrik menjadi bagian dari upaya menghadirkan pelayanan energi yang lebih merata hingga wilayah pedesaan.
“Perluasan akses listrik merupakan bagian dari upaya mewujudkan pemerataan pelayanan energi sehingga masyarakat di wilayah pedesaan memperoleh akses listrik yang lebih merata. Ini menyangkut keadilan sosial. Apa yang dirasakan di kota harus dirasakan oleh semua masyarakat kita di pedesaan,” katanya.
RASIO DESA BERLISTRIK MASIH BERAGAM
Alfonso menjelaskan, tingkat desa berlistrik di lima kabupaten tersebut masih menunjukkan perbedaan. Nabire tercatat memiliki rasio desa berlistrik sebesar 69,14 persen, disusul Deiyai 76,80 persen dan Dogiyai 50,63 persen.
Sementara itu, rasio desa berlistrik di Paniai baru mencapai 13,57 persen dan Intan Jaya sebesar 4,12 persen. Kondisi geografis wilayah pegunungan menjadi salah satu kendala utama dalam memperluas pelayanan kelistrikan.
Keterbatasan akses jalan dan sulitnya distribusi material membuat pembangunan di sejumlah lokasi membutuhkan penanganan khusus. Untuk wilayah Intan Jaya, pengiriman material pembangunan bahkan hanya dapat dilakukan melalui jalur udara.
PEMBANGUNAN DILAKSANAKAN BERTAHAP
PLN bersama PLN Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan (UP2K) Papua Tengah telah menyusun peta jalan pembangunan kelistrikan untuk periode 2025 hingga 2029.
Pada 2025, pembangunan ditargetkan menjangkau 43 lokasi dengan anggaran Rp54,6 miliar. Kemudian pada 2026, pekerjaan mencakup 99 lokasi dengan anggaran Rp272,6 miliar.
Target pembangunan berlanjut pada 2027 di 107 lokasi dengan anggaran Rp225,4 miliar. Selanjutnya, 242 lokasi ditargetkan memperoleh pembangunan pada 2028 dengan anggaran Rp921,3 miliar.
Pada 2029, PLN menargetkan pembangunan di 478 lokasi dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp2,1 triliun. Anggaran tersebut mencakup pengadaan material, pembangunan infrastruktur serta biaya transportasi untuk menjangkau daerah terpencil.
KEAMANAN DAN DUKUNGAN LAHAN JADI PERHATIAN
Dalam pelaksanaannya, PLN masih menghadapi tantangan keamanan. Alfonso menyebut sekitar 93 persen target pekerjaan berada di wilayah yang dinilai memiliki kerawanan keamanan.
“Kami butuh jaminan keamanan saat tim terjun mengeksekusi proyek di lapangan,” ujar dia.
Selain faktor keamanan, PLN juga membutuhkan dukungan pemerintah daerah dalam penyediaan lahan. Dukungan tersebut terutama diperlukan untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan rencana relokasi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) Deiyai.
PLN juga memerlukan kepastian tata ruang serta jadwal operasional sejumlah kantor pemerintahan di kawasan daerah otonomi baru. Hal itu diperlukan agar kesiapan daya listrik dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kawasan.
MINTA DUKUNGAN MASYARAKAT JAGA JARINGAN
Pada sisi jaringan distribusi, PLN mengharapkan dukungan pemerintah kampung dan masyarakat dalam penyediaan jalur jaringan atau right of way (ROW).
Alfonso menyampaikan bahwa gangguan pohon pada jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 619 kilometer menjadi salah satu faktor penyebab pemadaman listrik. Karena itu, pemeliharaan jaringan membutuhkan kerja sama dari masyarakat di sekitar jalur distribusi.
“Listrik ini fasilitas negara untuk rakyat. Kami sangat mengharapkan sinergi dari seluruh elemen agar pelayanan kami bisa maksimal,” katanya.
Melalui investasi dan pembangunan bertahap tersebut, PLN berharap perluasan infrastruktur kelistrikan dapat memperkecil kesenjangan pelayanan energi antara wilayah perkotaan dan pedesaan, termasuk masyarakat yang tinggal di daerah terpencil dan pegunungan Papua Tengah.

Komentar