INTAN JAYA — Pemandangan tak biasa terlihat di halaman Mapolsek Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Sejumlah potongan kendaraan dinas jenis Isuzu D-Max Double Cabin tampak sedang dirakit kembali oleh para mekanik setelah sebelumnya dikirim menggunakan pesawat perintis dari Nabire menuju Sugapa.
Kendaraan milik Polres Intan Jaya tersebut terpaksa dipotong menjadi 32 bagian akibat sulitnya akses transportasi darat menuju wilayah pegunungan Papua Tengah. Seluruh komponen kendaraan kemudian diangkut menggunakan dua kali penerbangan pesawat caravan charter.
Salah seorang mekanik, Yulius Senolinggi, mengatakan mobil tersebut dibongkar menjadi puluhan bagian agar dapat dimuat ke dalam pesawat yang memiliki kapasitas terbatas.
“Mobil ini dipotong menjadi 32 bagian terdiri dari potongan rangka, sasis, mesin, gardan, transmisi, ban hingga perlengkapan lainnya. Setelah tiba di Sugapa, kami mulai merakitnya kembali dan diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari dua minggu,” ujarnya.
Proses pengiriman kendaraan dinas dengan cara dibongkar total itu menjadi gambaran nyata beratnya tantangan logistik di wilayah pegunungan Papua Tengah yang hingga kini masih sangat bergantung pada transportasi udara.
Ps Kapolres Intan Jaya, Sofyan C.A Samakori, menjelaskan kendaraan tersebut sebenarnya sudah berada di Nabire selama dua tahun karena keterbatasan anggaran untuk pengiriman ke Intan Jaya.
Menurutnya, satu-satunya jalur yang memungkinkan untuk membawa kendaraan ke Sugapa hanyalah melalui udara. Pengiriman menggunakan helikopter dinilai terlalu mahal sehingga pihak kepolisian memilih alternatif membongkar kendaraan dan menerbangkannya menggunakan pesawat caravan charter.
“Biaya charter pesawat mencapai Rp80 juta, sementara biaya mekanik untuk bongkar pasang kendaraan sekitar Rp70 juta,” jelasnya.
Di tengah keterbatasan sarana, Polres Intan Jaya saat ini hanya memiliki satu unit mobil operasional aktif yang digunakan secara bergantian sebagai kendaraan dinas Kapolres sekaligus kendaraan patroli anggota.
Kondisi tersebut semakin berat karena aparat kepolisian di Intan Jaya juga harus menjalankan tugas pengamanan di wilayah yang rawan gangguan kelompok kriminal bersenjata (KKB).
Meski telah berdiri selama delapan tahun, hingga kini Polres Intan Jaya disebut belum memiliki Markas Komando (Mako) permanen dan masih menggunakan gedung pinjam pakai sebagai kantor pelayanan masyarakat.
“Kami sangat membutuhkan pembangunan Mako Polres permanen, tambahan kendaraan operasional, serta dukungan perlengkapan keamanan untuk menunjang tugas anggota di wilayah yang memiliki medan berat dan rawan gangguan keamanan,” ungkap Samakori.
Kisah pengiriman mobil dinas yang harus dipotong menjadi puluhan bagian itu sekaligus menggambarkan tantangan besar yang dihadapi aparat negara dalam menjaga keamanan dan memberikan pelayanan di wilayah pedalaman Papua Tengah yang memiliki medan ekstrem serta keterbatasan infrastruktur.

Komentar