Lingkungan
Beranda / Lingkungan / Karhutla di Bupul Indah Merauke Ancam Permukiman dan Puluhan Hektare Lahan Produktif

Karhutla di Bupul Indah Merauke Ancam Permukiman dan Puluhan Hektare Lahan Produktif

MERAUKE, PapuaTengah.news – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kampung Bupul Indah, Distrik Elikobel, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, semakin mengkhawatirkan. Kobaran api dilaporkan mendekati permukiman warga hingga berjarak sekitar 50–100 meter pada Selasa (13/10/2026) dini hari.

Di tengah kemarau berkepanjangan dan keterbatasan pasokan air, warga bersama Tim Ekspedisi Patriot Universitas Gadjah Mada (TEP UGM) berjaga hingga pagi untuk mencegah api menjalar ke rumah penduduk. Kebakaran tersebut juga mengancam lahan pertanian dan sumber penghidupan masyarakat.

Tim Task Force Trialistik Muting Ekspedisi Patriot UGM memperkirakan luas wilayah terdampak mencapai sekitar 55 hektare. Angka tersebut masih berupa estimasi awal yang membutuhkan verifikasi lebih lanjut bersama pemerintah dan masyarakat.

146 Titik Panas Terdeteksi di Bupul Indah

Berdasarkan pemantauan Tim Task Force Trialistik Muting, terdapat 146 titik panas (hotspot) yang teridentifikasi di wilayah Bupul Indah selama periode 22 September hingga 10 Oktober 2026.

Titik panas merupakan indikasi anomali suhu yang terdeteksi melalui pemantauan, sehingga tidak dapat langsung diartikan sebagai jumlah kejadian kebakaran yang terpisah. Verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk memastikan lokasi dan luas lahan yang terbakar.

Dinkes Nabire Catat 3.079 Kasus ISPA, Asap Karhutla Jadi Perhatian

Dalam cakupan lebih luas, data pemantauan tim mencatat 482 titik panas berkepercayaan tinggi di Papua Selatan pada 11 Oktober 2026. Perbedaan angka antarpemantauan dapat dipengaruhi waktu pengamatan, tingkat kepercayaan deteksi, dan cakupan wilayah.

Informasi mengenai api yang mendekati permukiman diperoleh dari pengamatan lapangan dan keterangan seorang warga bernama Man. Sekitar pukul 04.00 WIT, api dilaporkan telah berada pada jarak yang mengkhawatirkan dari rumah penduduk.

Kebun Cabai dan Tanaman Buah Ikut Terdampak

Kebakaran tidak hanya mengancam permukiman, tetapi juga merusak lahan produktif milik masyarakat. Dari perkiraan luas terdampak sekitar 55 hektare, sekitar 16 hektare merupakan areal tanaman buah, seperti kelengkeng, durian, rambutan, dan alpukat. Sementara itu, sekitar lima hektare lainnya merupakan lahan hortikultura dan cabai.

Salah satu warga yang terdampak adalah Rotun, petani cabai di Kampung Bupul Indah. Kebunnya terbakar ketika masa panen belum selesai, padahal harga cabai di tingkat petani dilaporkan berada pada kisaran Rp120.000 per kilogram pada awal Oktober dan kemudian mencapai Rp135.000 per kilogram.

“Untuk menyiram cabai saja kami membutuhkan banyak tenaga untuk membawa air ke ladang-ladang. Sekarang, ketika sudah waktunya panen, justru terbakar, padahal panennya juga belum selesai,” ujar Rotun.

Pemprov Papua Tengah Luncurkan SIAP, Urus Izin Kini Lebih Mudah Secara Digital

Kerugian petani tidak hanya berasal dari hilangnya hasil panen, tetapi juga biaya bibit, pupuk, perawatan, dan tenaga yang telah dikeluarkan selama berbulan-bulan. Kerusakan tanaman buah juga berpotensi berdampak panjang karena sejumlah jenis tanaman membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali produktif setelah mengalami kerusakan berat.

Hingga kini, nilai kerugian ekonomi akibat kebakaran masih memerlukan pendataan bersama pemerintah, petani, dan masyarakat setempat.

Kemarau Berkepanjangan Hambat Pemadaman

Upaya pemadaman menghadapi kendala berupa terbatasnya pasokan air. Warga melaporkan kemarau telah berlangsung sekitar empat bulan dan menyebabkan sejumlah sumur mengering.

Layanan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) juga belum menjangkau seluruh rumah tangga secara optimal karena keterbatasan debit air dan jarak distribusi.

Sebagian warga bahkan harus mengeluarkan biaya hingga Rp100.000 untuk memperoleh sekitar 1.200 liter air. Kondisi ini membuat kebutuhan rumah tangga, penyiraman kebun, dan pemadaman kebakaran harus dipenuhi dengan sumber air yang terbatas.

Bupati Nabire Tekankan Transparansi dan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Kampung

Selain itu, jembatan kayu di ruas Bupul 7 dilaporkan rusak setelah terbakar sehingga kendaraan harus melewati jalur alternatif yang lebih jauh. Warga juga melaporkan gangguan listrik yang diduga berkaitan dengan kerusakan jaringan kabel di sekitar lokasi kebakaran. Kedua kondisi tersebut masih memerlukan pemeriksaan teknis lebih lanjut.

Sebelumnya, pada Sabtu (10/10/2026), kebakaran di Jalur 5 dilaporkan membesar. Anggota TEP UGM kemudian menuju lokasi setelah menerima permintaan bantuan dari warga.

Asap Berpotensi Ganggu Kesehatan Warga

Selain ancaman kobaran api, paparan asap juga menjadi perhatian. Dokumentasi tim terhadap pemantauan The Weather Channel untuk wilayah Elikobel pada 12 Oktober 2026 menunjukkan indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) sebesar 329, dengan konsentrasi PM2.5 sekitar 280,67 mikrogram per meter kubik.

Angka tersebut berasal dari layanan pemantauan daring dan bukan hasil pengukuran langsung di Kampung Bupul Indah. Meski demikian, data itu menjadi peringatan mengenai potensi risiko kesehatan akibat paparan asap.

Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan saat asap pekat, menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar, serta menjaga kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, dan warga dengan gangguan pernapasan. Warga yang mengalami sesak napas atau gejala berat perlu segera mencari pertolongan medis.

Pemerintah dan Berbagai Pihak Perkuat Koordinasi

Tim Task Force Trialistik Muting mengapresiasi dukungan Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo, organisasi perangkat daerah tingkat provinsi dan Kabupaten Merauke, pemerintah setempat, masyarakat, perusahaan, serta organisasi nonpemerintah.

Koordinasi di tingkat provinsi turut melibatkan Dinas Pangan, Pertanian, Kelautan dan Perikanan serta Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Pertanahan (DLHKP).

Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Selatan, Paino, S.IP., M.T., turut membantu dengan mengerahkan kendaraan dinas Toyota Hilux untuk mendukung pengangkutan air.

Tim TEP UGM juga menjalin komunikasi dengan organisasi nonpemerintah, perusahaan di sekitar kawasan, dan tim Ekspedisi Patriot UGM lainnya di Kawasan Transmigrasi Muting guna memperluas dukungan bagi masyarakat terdampak.

Koordinator lapangan percepatan penanganan kebakaran dan kekeringan Tim Task Force TEP UGM, Mega, mengatakan kebutuhan warga perlu segera dihubungkan dengan pihak-pihak yang memiliki sumber daya untuk memberikan bantuan.

“Apa yang sedang terjadi di depan mata kita menunjukkan bahwa kebutuhan warga sangat mendesak dan perlu segera dibantu. Kami berupaya menghubungkan kebutuhan tersebut dengan pemerintah Papua Selatan, dinas terkait, NGO, perusahaan, dan pihak lain yang dapat memberikan dukungan. Masyarakat tidak mungkin mengatasi semuanya sendiri, terlebih dengan keterbatasan air dan armada untuk mengangkutnya,” ujar Mega.

UGM Dorong Penanganan Darurat dan Pemulihan

Ketua Tim Task Force Trialistik Ekspedisi Patriot UGM 2026, Dr. (Cand.) Mohammad Ghofur, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa karhutla di Bupul Indah bukan sekadar persoalan luas lahan yang terbakar, tetapi juga menyangkut keselamatan masyarakat dan keberlanjutan mata pencaharian petani.

“Kebakaran di Bupul Indah bukan sekadar persoalan 55 hektare lahan yang hangus terbakar. Di balik angka tersebut, ada sumber penghidupan masyarakat, kebun yang dirawat bertahun-tahun, dan masa depan keluarga petani yang terancam,” tegas Ghofur.

Ia mengapresiasi dukungan pemerintah, perusahaan swasta, organisasi nonpemerintah, dan berbagai pihak. Namun, menurutnya, skala kebakaran membutuhkan keterlibatan yang lebih luas serta penanganan yang cepat dan terkoordinasi.

“Kami mengapresiasi dukungan Gubernur Papua Selatan, pemerintah daerah, perusahaan swasta, NGO serta berbagai pihak yang telah bergerak bersama. Namun, besarnya skala kebakaran menunjukkan bahwa kita masih membutuhkan kolaborasi yang jauh lebih luas, lebih cepat, dan lebih terkoordinasi. Kami mengajak pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, NGO, perguruan tinggi, serta seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memperkuat penanganan darurat, mitigasi, dan pemulihan pascakebakaran,” ujarnya.

Prioritas penanganan saat ini meliputi perlindungan permukiman, percepatan distribusi air, penyediaan armada pemadam, perlindungan kesehatan dari paparan asap, serta pemutakhiran data lahan dan kerugian petani.

Untuk jangka panjang, upaya tersebut perlu dilanjutkan melalui pengembangan sumber air yang andal, penguatan kelompok masyarakat peduli api, pemantauan dini berbasis data satelit dan laporan warga, pemulihan kebun produktif, serta perbaikan infrastruktur yang terdampak.

Ghofur menambahkan, perguruan tinggi dapat membantu menyediakan data lapangan dan memperkuat koordinasi lintas pihak untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak mendapat perhatian.

“Sebab, api tidak mengenal batas administratif maupun kewenangan kelembagaan. Keselamatan masyarakat dan keberlanjutan penghidupan mereka harus menjadi prioritas kita bersama,” tegasnya.

Kebakaran di Bupul Indah menjadi pengingat pentingnya respons cepat dan kerja sama berbagai pihak. Ketika api mendekati permukiman, pasokan air terbatas, dan lahan produktif terbakar, keselamatan warga serta pemulihan sumber penghidupan perlu menjadi prioritas utama.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement