NABIRE, PapuaTengah.news – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Nabire, Papua Tengah, mengembangkan pengolahan buah markisa menjadi sirup sebagai upaya meningkatkan nilai jual hasil kebun dan memperluas peluang pemasaran bagi petani lokal, termasuk yang berasal dari wilayah pedalaman.
Ketua DWP Kabupaten Nabire, Ester Passang, mengatakan pengolahan tersebut diharapkan dapat membantu menyerap hasil panen petani secara berkelanjutan sekaligus mengurangi kerugian akibat buah yang tidak terjual dan akhirnya membusuk.
“Saya kadang sedih melihat mama-mama di pasar. Markisa yang dijual tidak laku, kemudian dibawa kembali ke rumah dan kalau sudah busuk dibuang saja,” katanya di Nabire, Kamis.
Ubah Buah Segar Menjadi Produk Bernilai Tambah
Ester menjelaskan, DWP telah mengadakan pelatihan bagi mama-mama Papua dan anggota organisasi untuk mengolah markisa menjadi sirup. Kegiatan ini bertujuan memberikan nilai tambah pada hasil kebun yang selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk buah segar.
Menurutnya, markisa yang tidak terjual berisiko membusuk dalam beberapa hari. Dengan mengolahnya menjadi sirup, buah tersebut dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai jual dan berpotensi disimpan lebih lama dibandingkan buah segar.
Pada tahap awal, dua tumpuk markisa dapat menghasilkan empat botol sirup berukuran 300 mililiter. Produk tersebut telah dikemas dan mulai dipasarkan dengan harga Rp10.000 per botol.
“Kalau di sini markisa dijual satu tumpuk antara 4-5 buah markisa dengan harga Rp10 ribu. Jika dibuat sirup, dua tumpuk markisa bisa menghasilkan empat botol sirup 300 ml dengan harga 10 ribu per botol,” ujarnya.
Produksi Masih Manual, Daya Simpan Perlu Ditingkatkan
Ester mengungkapkan bahwa kegiatan pengolahan markisa masih berada pada tahap awal. Proses produksi dilakukan secara manual dan belum menggunakan bahan pengawet, sehingga daya simpan sirup saat ini diperkirakan sekitar empat hari.
Oleh karena itu, evaluasi terhadap cita rasa, peningkatan daya simpan, dan pengembangan kapasitas produksi menjadi hal yang perlu dilakukan sebelum usaha tersebut diperluas.
“Kami ingin kegiatan ini berkelanjutan, bukan hanya membuat sirup dalam kapasitas kecil. Harapannya, produk ini bisa dikembangkan menjadi produk unggulan daerah,” katanya.
Dorong Penyerapan Hasil Kebun dari Wilayah Pedalaman
DWP Kabupaten Nabire berharap pengembangan produksi sirup markisa dapat membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus menciptakan permintaan bahan baku secara rutin dari petani.
Jika kapasitas produksi meningkat, penyerapan markisa diharapkan tidak hanya menjangkau petani di Kabupaten Nabire, tetapi juga petani dari kabupaten tetangga, terutama yang berada di wilayah pedalaman.
Pelatihan tersebut melibatkan mama-mama Papua bersama sejumlah anggota DWP Kabupaten Nabire. Selain meningkatkan keterampilan mengolah hasil pertanian, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membuka peluang usaha berbasis potensi lokal.
Melalui pengembangan produk olahan markisa, DWP Nabire berupaya mendorong pemanfaatan hasil kebun secara lebih optimal, mengurangi buah yang terbuang, dan memperluas kesempatan ekonomi bagi masyarakat setempat.

Komentar