Inspirasi Nabire Nasional
Beranda / Nasional / Tahu Mentah Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar di Nabire, BPS Soroti Kenaikan Harga Kedelai Impor

Tahu Mentah Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar di Nabire, BPS Soroti Kenaikan Harga Kedelai Impor

NABIRE, Papuatengah.news – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nabire mencatat inflasi bulanan (month to month) sebesar 0,21 persen pada Mei 2026. Menariknya, komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar bukan berasal dari sektor energi atau transportasi, melainkan tahu mentah.

Kepala BPS Kabupaten Nabire, Dio Benuvin Perkasa Ginting, menyampaikan bahwa kenaikan harga tahu mentah menjadi faktor utama pendorong inflasi di Nabire selama Mei 2026.

“Komoditas tahu mentah memberikan andil inflasi terbesar sebesar 0,21 persen. Kenaikan harga ini dipengaruhi oleh meningkatnya harga kedelai impor serta bertambahnya biaya distribusi,” ujar Dio saat merilis Berita Resmi Statistik perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kabupaten Nabire di kantornya, Selasa (2/6/2026).

Berdasarkan data BPS, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kabupaten Nabire naik dari 115,20 pada April 2026 menjadi 115,44 pada Mei 2026.

Selain tahu mentah, sejumlah komoditas lain turut mendorong kenaikan inflasi, di antaranya bakso siap santap dengan andil 0,13 persen, solar sebesar 0,07 persen, nasi dengan lauk 0,06 persen, serta minyak goreng sebesar 0,05 persen.

Sekda Nabire Tekankan Manajemen Risiko Jadi Budaya Kerja Pemerintahan

Menurut Dio, kenaikan harga bakso siap santap dipicu meningkatnya harga daging sapi sebagai bahan baku utama. Sementara kenaikan harga nasi dengan lauk berkaitan dengan meningkatnya biaya operasional usaha, termasuk akibat naiknya harga LPG non-subsidi.

Di sisi lain, BPS juga mencatat adanya tekanan dari sektor energi yang berpotensi memengaruhi harga barang dan jasa di daerah. Salah satunya berasal dari lonjakan harga avtur yang mencapai sekitar 80 persen dibanding periode sebelumnya.

Pada Mei 2026, harga avtur domestik tercatat mencapai Rp23.551 per liter. Kenaikan tersebut dipengaruhi gejolak harga energi global yang dipicu konflik di kawasan Timur Tengah.

“Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena dapat berdampak pada biaya transportasi udara, terutama di Papua yang sangat bergantung pada layanan penerbangan,” kata Dio.

Selain avtur, PT Pertamina turut melakukan penyesuaian harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Harga Dexlite naik dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter, sedangkan Pertamina Dex meningkat menjadi Rp23.900 per liter.

Presiden Prabowo Apresiasi Dedikasi Petugas Makan Bergizi Gratis di Daerah Terpencil

Kenaikan juga terjadi pada LPG non-subsidi. Untuk pertama kalinya sejak akhir tahun 2023, harga LPG 12 kilogram naik menjadi Rp228.000 per tabung atau meningkat sekitar 18,75 persen. Sementara LPG 5,5 kilogram naik menjadi Rp107.000 per tabung.

Meski mengalami inflasi bulanan, kondisi ekonomi Kabupaten Nabire secara kumulatif masih menunjukkan deflasi tahun kalender (year to date) sebesar 1,58 persen. Adapun inflasi tahunan (year on year) tercatat sebesar 1,81 persen dibandingkan Mei 2025.

BPS mencatat kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran menjadi kelompok pengeluaran dengan inflasi tertinggi, yakni mencapai 4,99 persen secara bulanan dan 6,86 persen secara tahunan.

Sementara itu, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga dan menjadi penyumbang deflasi terbesar selama Mei 2026. Komoditas tersebut meliputi tomat, bawang merah, cabai rawit, ikan kakap merah, dan cabai merah.

BPS berharap perkembangan inflasi ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya dalam menjaga stabilitas harga serta daya beli masyarakat di Kabupaten Nabire.

Harga Emas 4 Juni 2026 Bergerak Tipis, Antam Stabil Sementara Galeri24 dan UBS Melemah

(Papuatengah.news)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement