Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengendalikan lonjakan harga kebutuhan pokok yang mulai membebani masyarakat. Ia menilai dampak dinamika geopolitik global kini sudah terasa langsung dalam perekonomian nasional.
Menurut Puan, kenaikan harga energi seperti BBM non-subsidi dan LPG, serta merangkaknya harga bahan pokok seperti minyak goreng, telah mempersempit ruang belanja masyarakat, khususnya kelompok ekonomi kecil.
“Konflik geopolitik global mulai dirasakan dalam perekonomian nasional. Termasuk lonjakan harga energi dan kebutuhan pokok yang memberatkan rakyat,” ujarnya dalam keterangan pers, Kamis (23/4/2026).
Ia menyoroti kenaikan harga LPG non-subsidi yang mencapai sekitar 18 persen, serta lonjakan harga minyak goreng akibat meningkatnya harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global. Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa lebih dari separuh wilayah Indonesia mengalami kenaikan harga minyak goreng.
Puan menegaskan, kenaikan harga kebutuhan pokok memiliki dampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat. Komoditas seperti minyak goreng, menurutnya, merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda.
“Setiap kenaikan harga langsung mengubah komposisi pengeluaran rumah tangga. Ini yang paling dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti kondisi di daerah, di mana masyarakat kerap kesulitan mendapatkan BBM subsidi sehingga terpaksa membeli BBM non-subsidi dengan harga lebih tinggi.
“Kondisi yang sama juga terjadi pada LPG. Dampaknya berantai dan memengaruhi harga komoditas lainnya,” ujarnya.
Puan mengingatkan bahwa jika tidak segera dikendalikan, kenaikan harga ini berpotensi memicu inflasi lebih luas dan memperburuk daya beli masyarakat.
Ia pun mendesak pemerintah untuk segera melakukan langkah mitigasi, termasuk menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan energi serta bahan pokok di tengah ketidakpastian global.
Menurutnya, konflik geopolitik internasional—termasuk ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran—berpotensi terus memengaruhi ekonomi dunia, sehingga Indonesia perlu bersiap dengan kebijakan yang adaptif.
“Negara harus hadir ketika kebutuhan dasar mulai terasa berat di dapur rumah tangga. Di situlah kualitas kebijakan diuji,” pungkasnya.

Komentar