TIMIKA, PapuaTengah.news – Bupati Mimika Johannes Rettob mengimbau seluruh masyarakat Kabupaten Mimika, Papua Tengah, untuk tidak membakar sampah sembarangan dan menghemat penggunaan air sebagai langkah antisipasi menghadapi kemarau panjang akibat fenomena El Nino.
Johannes Rettob mengatakan kondisi kekeringan akibat kemarau panjang saat ini tidak hanya terjadi di Mimika, tetapi juga di sejumlah wilayah Indonesia sehingga diperlukan partisipasi masyarakat untuk mencegah terjadinya kebakaran.
“Di Mimika ini terdapat beberapa titik panas yang bisa menyebabkan terjadinya kebakaran. Oleh karena itu, saya meminta masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi,” ujar Johannes di Timika, Senin.
Sejumlah Titik Panas Mulai Terdeteksi
Johannes menjelaskan kondisi kemarau panjang telah meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Papua Tengah.
Beberapa wilayah di Papua Tengah bahkan telah mengalami kebakaran, di antaranya Kabupaten Puncak dan Kabupaten Nabire.
Ia juga meminta masyarakat tidak mengabaikan keberadaan asap yang terlihat di sejumlah wilayah Mimika karena kondisi tersebut dapat berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan.
“Jadi, kalau kita lihat asap saat ini di Mimika karena kebakaran hutan tolong dipublikasikan dan disosialisasikan kepada masyarakat agar masyarakat juga tahu hal ini,” ujarnya.
Menurutnya, penyebaran informasi kepada masyarakat penting agar warga memahami kondisi yang sedang terjadi serta turut mengambil langkah pencegahan.
Kepala Distrik Diminta Perkuat Imbauan
Untuk mencegah munculnya titik api baru, Johannes meminta seluruh kepala distrik di Kabupaten Mimika segera mengeluarkan surat maupun imbauan kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran secara sembarangan.
Ia secara khusus mengingatkan warga yang sedang membuka atau mengelola lahan perkebunan agar tidak menggunakan metode pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran.
“Mari kita jaga sama-sama. Angin saat ini masih bertiup cukup kencang sehingga perhatikan hal ini dengan baik. Kalau ada yang membuka perkebunan jangan sampai mereka membakar, kepala distrik segera buat surat untuk hal ini,” katanya.
Johannes menilai kondisi angin yang masih cukup kencang dapat mempercepat penyebaran api apabila terjadi kebakaran sehingga upaya pencegahan harus dilakukan sejak awal.
Warga Diminta Hemat Penggunaan Air
Selain ancaman kebakaran, kemarau panjang juga mulai berdampak terhadap ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Mimika.
Johannes mengungkapkan beberapa sumur di sejumlah titik, termasuk di lima distrik di kawasan perkotaan, mulai mengalami kekeringan.
Karena itu, masyarakat diminta menghemat penggunaan air dan tidak menggunakannya secara berlebihan selama musim kemarau berlangsung.
“Beberapa sumur di beberapa titik dan lima distrik di kota ini sudah mulai kering. Kita hemat air karena situasi kemarau ini panjang, BMKG memperkirakan sampai dengan April 2027,” ujarnya.
Antisipasi Dampak Kemarau Panjang
Pemerintah Kabupaten Mimika mendorong masyarakat untuk bersama-sama menghadapi dampak kemarau dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran sekaligus menjaga ketersediaan sumber air.
Larangan membakar sampah sembarangan, pengendalian pembukaan lahan, serta penghematan air diharapkan dapat membantu mengurangi risiko yang ditimbulkan akibat kondisi cuaca kering.
Johannes menegaskan bahwa pencegahan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat agar Kabupaten Mimika tetap aman dari ancaman kebakaran dan krisis air selama periode kemarau panjang.

Komentar