Lingkungan Nabire
Beranda / Nabire / Satgas Karhutla Papua Tengah Perkuat Deteksi Dini dan Patroli di Puncak Musim Kemarau

Satgas Karhutla Papua Tengah Perkuat Deteksi Dini dan Patroli di Puncak Musim Kemarau

NABIRE, PapuaTengah.news – Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Papua Tengah meningkatkan deteksi dini dan patroli terpadu untuk mengantisipasi potensi kebakaran di tengah puncak musim kemarau pada Agustus–September 2026.

Wakapolda Papua Tengah, Kombes Pol. Gustav Robby Urbinas, mengatakan peningkatan kesiapsiagaan diperlukan karena Papua Tengah telah memasuki musim kemarau sejak awal Juni 2026 yang dipengaruhi oleh penguatan fenomena El Nino.

“Penanganan karhutla tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman ketika api telah membesar, tetapi harus mengutamakan upaya pencegahan sejak dini,” kata Gustav saat memimpin apel gelar pasukan kesiapsiagaan Satgas Penanggulangan Karhutla 2026 di Kantor Gubernur Papua Tengah, Senin.

El Nino Tingkatkan Risiko Kebakaran

Gustav menjelaskan penguatan fenomena El Nino berpotensi menurunkan curah hujan dan ketersediaan sumber air di Papua Tengah.

Kondisi tersebut meningkatkan kerawanan kebakaran pada kawasan hutan, perkebunan, lahan pertanian, maupun wilayah yang sebelumnya memiliki riwayat kebakaran.

Pemprov Papua Tengah Tingkatkan Kewaspadaan Karhutla di Kawasan Hutan Lindung dan Konservasi

Karhutla yang tidak segera ditangani dapat menimbulkan kerusakan lingkungan dan mengganggu ekosistem. Selain itu, kabut asap yang muncul akibat kebakaran juga berpotensi berdampak terhadap kesehatan serta menghambat aktivitas sosial dan perekonomian masyarakat.

Pencegahan Diutamakan Sebelum Api Membesar

Satgas Karhutla diminta mengedepankan langkah preventif dan preemtif melalui sosialisasi serta edukasi kepada masyarakat.

Edukasi tersebut terutama diarahkan untuk meningkatkan kesadaran mengenai bahaya pembukaan lahan dengan cara membakar yang dapat memicu penyebaran api secara tidak terkendali.

“Bangun kesadaran masyarakat bahwa pencegahan karhutla merupakan tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

Selain sosialisasi, Satgas diminta melakukan pemetaan serta pemantauan terhadap wilayah rawan secara berkelanjutan.

Bupati Mimika Imbau Warga Tidak Bakar Sampah Sembarangan dan Hemat Air Hadapi Kemarau Panjang

Deteksi dini juga perlu diperkuat agar setiap titik api dapat segera diketahui dan ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Kolaborasi Lintas Instansi Diperkuat

Gustav menekankan pentingnya koordinasi antara berbagai unsur dalam menghadapi ancaman Karhutla di Papua Tengah.

Koordinasi tersebut melibatkan TNI-Polri, pemerintah daerah, BPBD, Basarnas, instansi kehutanan dan lingkungan hidup, pemadam kebakaran, dunia usaha, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, hingga masyarakat.

Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak diperlukan karena penanganan Karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja.

Sinergi di lapangan juga diharapkan mampu mempercepat penyampaian informasi, mobilisasi personel, serta pengerahan sarana pemadaman ketika ditemukan titik api.

BBU Mimika Jadi Pusat Edukasi Pertanian bagi Pelajar dan Mahasiswa

Personel dan Peralatan Diminta Siap

Selain kesiapan personel, Gustav meminta seluruh sarana dan prasarana pendukung dipastikan berada dalam kondisi optimal.

Pengecekan, pemeliharaan, serta uji kesiapan peralatan perlu dilakukan secara berkala agar seluruh perangkat dapat digunakan sewaktu-waktu ketika terjadi kebakaran.

Ia juga mengingatkan seluruh personel agar menjalankan tugas secara profesional, responsif, dan humanis dengan tetap mengutamakan keselamatan petugas, masyarakat, serta kelestarian lingkungan.

Penegakan Hukum terhadap Pelaku Pembakaran

Gustav menegaskan bahwa langkah pencegahan harus berjalan beriringan dengan penegakan hukum.

“Lakukan penegakan hukum secara tegas dan terukur terhadap setiap pihak yang dengan sengaja maupun karena kelalaiannya menyebabkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” katanya.

Menurutnya, tindakan hukum diperlukan sebagai bagian dari upaya memberikan efek pencegahan sekaligus memastikan setiap pihak bertanggung jawab terhadap kerusakan yang ditimbulkan akibat Karhutla.

1.923 Titik Panas Terdeteksi

Sebelumnya, BMKG Nabire mencatat sebanyak 1.923 titik panas (hotspot) terdeteksi di Papua Tengah selama periode 10–22 Agustus 2026.

Kabupaten Nabire menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni mencapai 1.069 titik.

Kepala BMKG Nabire, Husain Kamadi, mengatakan dari total 1.923 titik panas tersebut, sebanyak 273 titik memiliki tingkat kepercayaan rendah, 1.537 titik berada pada kategori sedang, sedangkan 113 titik masuk kategori tinggi.

Tingginya jumlah titik panas tersebut menjadi perhatian pemerintah dan Satgas Karhutla untuk memperkuat langkah pencegahan, pemantauan, serta respons cepat selama puncak musim kemarau.

Melalui apel kesiapsiagaan dan penguatan patroli terpadu, seluruh unsur diharapkan memiliki kesiapan operasional serta kesamaan langkah dalam mencegah dan menangani Karhutla di seluruh wilayah Papua Tengah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement