Nabire – HIV/AIDS masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius dan bersifat endemi di Provinsi Papua Tengah. Berdasarkan infografis Pencegahan dan Pengendalian HIV/AIDS Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah Tahun 2025, tercatat sebanyak 24.777 kasus kumulatif HIV/AIDS sejak pertama kali ditemukan pada 1998 hingga Desember 2025.
Meski penemuan kasus terus meningkat, tantangan utama pengendalian HIV/AIDS di Papua Tengah saat ini bukan hanya pada deteksi, melainkan pada kesenjangan besar antara jumlah orang dengan HIV (ODHIV) yang telah teridentifikasi dan yang menjalani pengobatan antiretroviral (ARV). Dari 17.940 ODHIV yang telah mengetahui status HIV-nya, hanya 3.582 orang yang tercatat sedang menjalani terapi ARV. Kondisi ini mencerminkan rendahnya retensi pengobatan dan kepatuhan terapi jangka panjang, yang berpotensi meningkatkan risiko penularan di tingkat komunitas.
Secara epidemiologis, peningkatan jumlah kasus terlapor dalam beberapa tahun terakhir sebagian besar dipengaruhi oleh perluasan skrining HIV, penguatan layanan kesehatan, serta perbaikan sistem pelaporan. Namun demikian, penularan HIV di masyarakat masih terus berlangsung dan membutuhkan intervensi yang berkelanjutan dan terintegrasi.
Dari sisi distribusi orang, mayoritas kasus HIV/AIDS ditemukan pada kelompok usia produktif. Berdasarkan jenis kelamin, perempuan menyumbang 56 persen dari total kasus, sementara laki-laki 44 persen. Kondisi ini berdampak signifikan terhadap aspek sosial dan ekonomi daerah, mengingat kelompok usia produktif merupakan tulang punggung pembangunan dan kesejahteraan keluarga.
Faktor risiko penularan HIV/AIDS masih didominasi oleh hubungan seksual tidak aman, disusul penularan dari ibu ke anak. Data ini menunjukkan masih lemahnya upaya edukasi pencegahan, promosi perilaku seksual aman, serta perlunya perluasan skrining HIV pada kelompok berisiko dan populasi umum.
Dari aspek wilayah, kasus HIV/AIDS tersebar di seluruh kabupaten di Papua Tengah, dengan konsentrasi lebih tinggi di daerah dengan mobilitas penduduk yang tinggi dan akses layanan kesehatan yang relatif lebih baik, seperti Nabire, Mimika, dan Paniai. Tren peningkatan penemuan kasus juga berkorelasi dengan meningkatnya cakupan skrining aktif di wilayah-wilayah tersebut.
Permasalahan HIV/AIDS di Papua Tengah semakin kompleks dengan tingginya kasus koinfeksi HIV–TBC. Data menunjukkan terdapat 6.712 pasien TBC, dengan 5.083 pasien telah diketahui status HIV-nya. Dari jumlah tersebut, 778 pasien TBC-HIV telah mendapatkan terapi ARV, sementara 583 pasien menerima terapi pencegahan TBC (IPT). Koinfeksi ini berkontribusi besar terhadap peningkatan angka kesakitan dan kematian ODHIV.
Dari sisi dampak klinis, sebanyak 1.305 ODHIV telah menjalani pemeriksaan viral load, dan 1.124 orang di antaranya berhasil mencapai supresi viral load. Capaian ini menunjukkan efektivitas terapi ARV serta mendukung prinsip U=U (Undetectable = Untransmittable). Namun demikian, jumlah tersebut masih relatif kecil dibandingkan total kasus kumulatif HIV/AIDS di Papua Tengah.
Pada kelompok ibu hamil, dari 30.870 sasaran, baru 10.811 ibu hamil yang menjalani tes HIV. Dari hasil pemeriksaan tersebut, 116 ibu hamil terdeteksi HIV positif dan 76 orang telah memulai terapi ARV. Data ini menegaskan masih adanya celah serius dalam skrining HIV pada kehamilan serta pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak.
Secara keseluruhan, data epidemiologis ini menegaskan bahwa HIV/AIDS di Papua Tengah masih menjadi tantangan besar kesehatan masyarakat. Diperlukan langkah yang lebih agresif dan berkelanjutan melalui perluasan skrining HIV, percepatan inisiasi ARV, peningkatan retensi pengobatan, serta penguatan upaya pencegahan primer dan sekunder guna memutus rantai penularan dan menekan dampak jangka panjang epidemi HIV/AIDS di Papua Tengah.

Komentar