Jakarta — Pasar keuangan Indonesia ditutup bergerak beragam pada perdagangan Selasa (27/1/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah berhasil menguat, sementara pasar obligasi justru mengalami tekanan jual.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi pasar keuangan domestik untuk bergerak lebih positif pada perdagangan Rabu (28/1/2026), seiring pelaku pasar mencermati perkembangan sentimen global dan domestik.
Pada perdagangan kemarin, IHSG menguat tipis 0,05% ke level 8.980,23, naik 4,89 poin. Penguatan ini terjadi setelah IHSG sempat tertekan cukup dalam pada awal perdagangan, bahkan turun hingga 1,13% dalam sepuluh menit pertama sesi perdagangan, sebelum akhirnya berhasil berbalik arah.
Secara keseluruhan, pergerakan saham didominasi pelemahan. Sebanyak 441 saham turun, 232 saham naik, dan 130 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp15,11 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 33,24 miliar saham dalam 2,08 juta kali transaksi.
Berdasarkan data Refinitiv, mayoritas sektor mencatatkan penguatan, dengan sektor energi dan teknologi menjadi penopang utama. Sementara itu, sektor konsumer primer dan keuangan menjadi yang paling tertekan.
Dari sisi emiten, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi kontributor terbesar penguatan IHSG setelah sahamnya melonjak 4,88%, menyumbang sekitar 19,11 poin indeks.
Penguatan juga datang dari PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang melesat 8,33% dan menyumbang 9,87 poin indeks. Selain itu, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) masing-masing menguat 2,34% dan 14,60%, berkontribusi 9,47 poin dan 8,82 poin terhadap IHSG.
Di sisi lain, sejumlah saham berkapitalisasi besar justru menjadi pemberat indeks. PT Astra International Tbk (ASII) turun tajam 8,36% ke level Rp6.300 per saham, dengan kontribusi pelemahan mencapai 23,55 poin indeks.
Tekanan juga terjadi pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang turun 1,96% ke Rp7.500 per saham, menyumbang penurunan 14,21 poin, di tengah aksi ambil untung menjelang pengumuman kinerja keuangan tahunan.
Mayoritas saham pertambangan dan perdagangan emas turut terkoreksi, setelah sebelumnya mencatatkan penguatan signifikan pada sesi perdagangan sebelumnya.
Dari pasar valuta asing, nilai tukar rupiah kembali melanjutkan tren penguatannya terhadap dolar Amerika Serikat. Mengacu data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,06% ke level Rp16.760 per dolar AS, sekaligus mencatatkan penguatan selama lima hari perdagangan berturut-turut.
Sepanjang perdagangan, rupiah sempat melemah hingga menyentuh Rp16.780/US$, sebelum akhirnya berbalik menguat menjelang penutupan.
Penguatan rupiah terjadi di tengah perhatian pelaku pasar terhadap penetapan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia menggantikan Juda Agung.
Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai, penunjukan Thomas memberi sinyal positif bagi pasar.
“Latar belakang Thomas di Kementerian Keuangan serta kedekatannya dengan Presiden memberi sinyal penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter,” ujar Rully.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya pemerintah dan Bank Indonesia untuk terus menjaga independensi kebijakan moneter guna mempertahankan kepercayaan investor, khususnya investor asing.
Senada, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan rupiah masih berpeluang menguat lebih lanjut. Salah satu faktor penopang berasal dari tren pelemahan dolar AS di pasar global.
“Kalau dilihat, dolar cenderung melemah di pasar global dan itu biasanya berpengaruh ke mata uang lain. Kalau kita cermat mengelolanya, rupiah seharusnya bisa menguat lebih jauh,” ujarnya di Jakarta.
Sementara itu, dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat naik 0,49% ke level 6,364%, dari sebelumnya 6,333%. Kenaikan imbal hasil tersebut mencerminkan tekanan jual yang masih terjadi di pasar obligasi.

Komentar