Lingkungan Nabire
Beranda / Nabire / Pemprov Papua Tengah Tingkatkan Kewaspadaan Karhutla di Kawasan Hutan Lindung dan Konservasi

Pemprov Papua Tengah Tingkatkan Kewaspadaan Karhutla di Kawasan Hutan Lindung dan Konservasi

NABIRE, PapuaTengah.news – Pemerintah Provinsi Papua Tengah meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), khususnya di kawasan hutan lindung dan konservasi yang mencakup sekitar 65 persen kawasan hutan di wilayah tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Pertanahan (DLHKP) Papua Tengah, Yan Richard Pugu, mengatakan kemarau panjang menyebabkan kadar air di lingkungan menurun sehingga material yang mudah terbakar tersedia hampir merata di berbagai wilayah Papua Tengah.

“Titik panas yang telah dikeluarkan BMKG dipastikan sudah ada kawasan hutan lindung dan konservasi. Sudah ada titik api di wilayah tersebut,” kata Yan di Nabire, Senin.

Sekitar 2,3 Juta Hektare Hutan Lindung

Yan menjelaskan Papua Tengah memiliki luas wilayah sekitar 61.073 kilometer persegi dengan kawasan hutan mencapai sekitar 3,9 juta hektare.

Kawasan tersebut terdiri atas hutan lindung, hutan produksi, dan areal penggunaan lain. Dari keseluruhan kawasan hutan tersebut, sekitar 2,3 juta hektare merupakan hutan lindung.

Satgas Karhutla Papua Tengah Perkuat Deteksi Dini dan Patroli di Puncak Musim Kemarau

Kondisi kemarau panjang membuat pemerintah perlu meningkatkan pengawasan karena material kering yang mudah terbakar dapat ditemukan di berbagai kawasan.

Aktivitas Masyarakat Perlu Diwaspadai

Keberadaan masyarakat adat di dalam kawasan hutan lindung dan konservasi juga menjadi perhatian pemerintah.

Menurut Yan, aktivitas pembukaan lahan oleh masyarakat menjadi salah satu kemungkinan yang dapat memicu munculnya titik panas sehingga diperlukan pengawasan dan edukasi secara berkelanjutan.

Pemerintah kabupaten diminta melakukan pengecekan langsung terhadap titik panas yang terdeteksi melalui satelit untuk memastikan apakah lokasi tersebut benar-benar mengalami kebakaran atau hanya menunjukkan kondisi permukaan yang memiliki suhu tinggi.

“‘Oleh karena itu, tindakan preventif untuk masyarakat, penyadaran pengetahuan ke masyarakat itu menjadi bagian yang penting, urgen untuk dilakukan,” ujarnya.

Bupati Mimika Imbau Warga Tidak Bakar Sampah Sembarangan dan Hemat Air Hadapi Kemarau Panjang

Seluruh Wilayah Papua Tengah Perlu Diwaspadai

Yan menegaskan kewaspadaan Karhutla tidak dapat hanya difokuskan pada wilayah tertentu.

Kondisi kering membuat material mudah terbakar tersedia di berbagai lokasi, sementara keberadaan oksigen dan sumber pemicu api dapat memperbesar potensi terjadinya kebakaran.

Kawasan yang memiliki indikasi gambut, termasuk wilayah Nabire bagian timur, juga menjadi perhatian karena berpotensi menyimpan material yang mudah terbakar.

Namun, pemerintah tetap melakukan pengawasan secara menyeluruh terhadap berbagai kawasan di Papua Tengah.

Hutan Pegunungan Jadi Tantangan Penanganan

Selain persoalan material kering, kondisi geografis Papua Tengah juga menjadi tantangan dalam penanganan Karhutla.

BBU Mimika Jadi Pusat Edukasi Pertanian bagi Pelajar dan Mahasiswa

Kebakaran yang terjadi di kawasan hutan pegunungan dengan akses yang sulit dapat menyulitkan proses pemadaman. Kondisi angin yang kencang juga berpotensi mempercepat penyebaran api.

Untuk mempercepat verifikasi informasi titik panas, DLHKP mempertimbangkan pembentukan posko atau penempatan perwakilan di masing-masing kabupaten.

Keberadaan posko tersebut diharapkan dapat mempercepat pengecekan informasi dari lapangan sehingga titik yang benar-benar mengalami kebakaran dapat segera ditindaklanjuti.

Penanganan Dilakukan Secara Berjenjang

Yan mengatakan penanganan Karhutla dilakukan secara berjenjang dengan pemerintah kabupaten menjadi pihak pertama yang melakukan inventarisasi kondisi serta kebutuhan di wilayah masing-masing.

Hasil pemantauan dan laporan dari pemerintah kabupaten kemudian menjadi dasar bagi pemerintah provinsi dalam menentukan bentuk dukungan dan langkah penanganan berikutnya.

Pola tersebut diharapkan dapat membuat penanganan lebih tepat sasaran karena bantuan disesuaikan dengan kondisi serta tingkat eskalasi kebakaran di setiap wilayah.

Nabire Terbakar 396,13 Hektare

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas kawasan yang terbakar di Kabupaten Nabire mencapai 396,13 hektare dalam periode 18 Juli hingga 23 Agustus 2026.

Kebakaran tersebut tersebar di tujuh distrik, yakni Teluk Kimi, Nabire Kota, Nabire Barat, Wanggar, Nabire, Makimi, dan Yaur.

BNPB menyebut kondisi cuaca panas, angin kencang, serta keberadaan semak dan ilalang yang mengering diduga menjadi faktor pemicu kebakaran.

Pemerintah Provinsi Papua Tengah terus mendorong langkah pencegahan melalui peningkatan pengawasan, verifikasi titik panas, edukasi kepada masyarakat, serta koordinasi antara pemerintah kabupaten dan provinsi untuk mengantisipasi meluasnya Karhutla di wilayah Papua Tengah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement