papuatengah.news, TIMIKA – Di tengah berbagai stigma mengenai keterbatasan akses pendidikan di wilayah pesisir Papua, tiga anak muda Kamoro dari Kabupaten Mimika justru membuktikan bahwa generasi asli Papua mampu bersaing hingga tingkat nasional.
Mereka adalah Bernadus Natani, Modestus Arpikini, dan Merik Kuepe. Ketiganya kini menjadi simbol harapan baru bagi generasi muda asli Mimika melalui berbagai prestasi yang diraih di dunia pendidikan dan olahraga.
Kisah mereka tidak hanya berbicara tentang medali dan penghargaan, tetapi juga perjuangan keluar dari keterbatasan ekonomi, keberanian untuk bermimpi, serta pentingnya akses pendidikan yang layak bagi anak-anak Papua.
Di tengah tantangan ekonomi keluarga, keterisolasian wilayah, hingga minimnya kesempatan pendidikan, ketiganya berhasil menunjukkan bahwa anak-anak Kamoro mampu berdiri sejajar dengan generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia.
Prestasi yang diraih datang dari berbagai bidang. Bernadus Natani yang kini berstatus Taruna Tingkat I berhasil meraih Juara II Pencak Silat Bupati Cup 2025.
Sementara itu, Merik Kuepe yang merupakan Taruna Tingkat II sukses membawa pulang medali perunggu pada ajang Kanjuruhan Fighter Competition.
Namun perhatian terbesar tertuju kepada Modestus Arpikini yang kisah perjuangannya dinilai menjadi inspirasi bagi banyak anak muda di Papua.
Modestus mengaku sempat berniat menghentikan pendidikan setelah lulus SMA karena ingin kembali ke kampung membantu kedua orang tuanya mencari nafkah.
Ia menempuh pendidikan di SD YPPK Akar Distrik Mimika Barat Tengah, kemudian melanjutkan ke SMP YPPK Le Cocq D’Armandville Kokonao, hingga akhirnya lulus dari SMK St. Yohanes Don Bosco Timika.
“Setelah lulus SMA saya sebenarnya tidak berniat kuliah. Saya ingin pulang kampung dan membantu bapa serta mama mencari uang. Saya merasa tinggal saya saja yang bisa membantu mama,” ungkap Modestus dalam pertemuan virtual bersama media, Senin.
Namun tanpa sepengetahuannya, seorang suster pembina asrama mendaftarkan namanya dalam program beasiswa Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro atau YPMAK.
Kesempatan tersebut kemudian mengubah jalan hidupnya. Modestus diterima untuk melanjutkan pendidikan di Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.
Bagi pemuda asal pesisir Mimika itu, perjalanan menuju Surabaya menjadi pengalaman yang tidak terlupakan karena untuk pertama kalinya ia menaiki pesawat terbang.
“Saya kaget saat tahu nama saya masuk program beasiswa. Pengalaman yang paling saya ingat adalah pertama kali naik pesawat menuju Surabaya. Saya sampai pusing karena belum pernah naik pesawat sebelumnya,” katanya sambil tersenyum.
Selama menempuh pendidikan sebagai taruna, Modestus tidak hanya belajar secara akademik, tetapi juga mendapatkan pembinaan disiplin, kepemimpinan, karakter, serta penguatan mental dan spiritual.
Lingkungan pendidikan yang kompetitif perlahan membangun rasa percaya dirinya sebagai anak asli Papua yang mampu bersaing di tingkat nasional.
Hanya dalam waktu satu tahun sebagai taruna, Modestus berhasil mengharumkan nama Papua Tengah setelah meraih Medali Emas dan Juara I Olimpiade Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan tingkat nasional.
Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Kamoro karena menunjukkan bahwa generasi muda pesisir Papua memiliki kemampuan dan potensi besar apabila mendapatkan akses pendidikan yang memadai.

Komentar