Nabire – Ribuan umat Katolik dari Dekenat Teluk Cenderawasih, Nabire, menggelar parade iman dan syukur dalam rangka memperingati 132 tahun masuknya misi Katolik di Tanah Papua, Jumat (22/5/2026).
Perayaan tersebut dilaksanakan untuk mengenang sejarah masuknya misi Katolik pertama kali di Sekru, Fakfak, pada 22 Mei 1894. Selain itu, momentum tersebut juga menjadi ungkapan syukur atas tahun episkopal Bernardus Bofitwos Baru.
Parade dipimpin oleh P. J. Sudrijanta bersama empat pimpinan paroki dan didampingi organisasi Pemuda Katolik. Ribuan umat tampak mengikuti kegiatan dengan penuh sukacita dan semangat persaudaraan.
Dalam perayaan tersebut, panitia mengusung tema “Setia Pada Agama Tuhan, Selamatkan Bumi Papua.” Tema itu menjadi pesan moral bagi gereja, pemerintah, dan masyarakat adat untuk bersama-sama menjaga kelestarian Tanah Papua dari ancaman kerusakan lingkungan dan berbagai persoalan sosial.
Pastor Sudrijanta menilai kondisi Papua saat ini membutuhkan perhatian serius dari seluruh pihak. Menurutnya, berbagai persoalan sosial dan lingkungan yang terjadi harus dihadapi secara bersama demi masa depan masyarakat Papua.
“Papua ini tidak baik-baik saja. Kita melihat banyak situasi yang semakin kacau dan perlu ada gerakan bersama untuk menyelamatkan tanah Papua dan masyarakat yang hidup di dalamnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa selama ribuan tahun tanah dan hutan Papua dijaga oleh masyarakat adat dari berbagai suku asli Papua. Namun, perkembangan pembangunan dan kekuatan modal dinilai mulai mengancam keberlangsungan alam serta kehidupan masyarakat adat.
Menurutnya, Papua memiliki tiga kekuatan utama, yakni adat, pemerintah, dan agama. Akan tetapi, peran adat dinilai semakin melemah sehingga komunitas agama diharapkan dapat menjadi motor perubahan sosial.
“Kami berharap agama bisa menjadi kekuatan yang diandalkan untuk membawa perubahan dan menyelamatkan bumi Papua,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa Gereja Katolik tidak hanya hadir untuk menyebarkan iman, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam memperjuangkan keadilan sosial, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan kemanusiaan.
“Iman dan keadilan adalah satu kesatuan. Gereja Katolik memiliki tradisi panjang dalam membela nilai-nilai kemanusiaan,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Kerawam Katolik Cenderawasih, Marselus Gobai, mengatakan antusiasme umat mengikuti peringatan 132 tahun misi Katolik di Papua sangat tinggi. Namun, keterbatasan transportasi membuat sebagian umat di Nabire memilih merayakan momentum tersebut secara lokal.

Komentar