Mimika – Program Badan Gizi Nasional melalui Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga berdampak besar terhadap peningkatan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja baru di berbagai daerah, termasuk Papua.
Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional, Dr Gunalan, mengatakan hingga 21 Mei 2026 program MBG telah mendistribusikan lebih dari delapan miliar porsi makanan bergizi kepada masyarakat di seluruh Indonesia.
“Program MBG hadir bukan hanya menghadirkan makanan bergizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat. Saat ini program tersebut telah menjangkau 6,42 juta penerima manfaat, termasuk siswa, ibu hamil, dan balita,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Ia menjelaskan, program MBG juga berhasil menciptakan sekitar 1,27 juta lapangan kerja baru di berbagai wilayah Indonesia. Program tersebut dinilai menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus menekan angka stunting.
Menurut Gunalan, Kabupaten Jayapura dipilih sebagai lokasi awal sosialisasi promosi dan edukasi MBG karena dinilai memiliki inovasi yang baik dalam pelaksanaan program tersebut.
Dalam kegiatan sosialisasi itu, Badan Gizi Nasional menghadirkan 23 modul promosi dan edukasi yang akan dipelajari oleh petugas SPPG, kepala dapur, ahli gizi, hingga tenaga akuntansi agar dapat menjadi agen edukasi di tengah masyarakat.
“Pelaksanaan MBG di Kabupaten Jayapura bahkan mendapat perhatian dari UNICEF dan delegasi Tiongkok. Salah satu hasil evaluasi menunjukkan meningkatnya minat siswa datang ke sekolah karena tertarik mendapatkan menu MBG,” katanya.
Saat ini terdapat 24 dapur MBG yang telah beroperasi di Kabupaten Jayapura dan seluruhnya dalam kondisi baik. Meski demikian, Badan Gizi Nasional masih menemukan sejumlah kendala, terutama terkait variasi menu makanan yang dinilai masih terbatas.
Gunalan mengatakan variasi menu yang masih berkisar lima hingga tujuh jenis berpotensi membuat anak-anak cepat merasa bosan. Oleh karena itu, pihaknya mendorong para ahli gizi untuk menghadirkan menu yang lebih beragam dengan memanfaatkan bahan pangan lokal.
“Kendala lainnya adalah distribusi bahan baku akibat kondisi geografis. Karena itu kami mendorong pengembangan menu berbasis kearifan lokal agar bahan pangan yang tersedia di daerah dapat dimanfaatkan sebagai menu MBG yang tetap disukai anak-anak,” tuturnya.

Komentar