Ekonomi Nabire Nasional
Beranda / Nasional / Harga Bright Gas di Nabire Tembus Rp500 Ribu, Pelaku Usaha Makanan Tercekik Biaya Produksi

Harga Bright Gas di Nabire Tembus Rp500 Ribu, Pelaku Usaha Makanan Tercekik Biaya Produksi

Nabire – Kenaikan harga LPG non-subsidi jenis Bright Gas di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, kian memberatkan pelaku usaha kecil, khususnya sektor kuliner. Harga tabung Bright Gas 12 kilogram bahkan dilaporkan telah menembus angka Rp500 ribu per tabung di tingkat pengecer.

Lonjakan harga ini dikeluhkan para pelaku usaha yang sangat bergantung pada LPG untuk menjaga kualitas produksi makanan. Salah satunya disampaikan Yaser Arafat, pelaku usaha kebab di Nabire, yang mengaku kesulitan menghadapi kenaikan biaya operasional.

“Keras betul hidup di Nabire. Gas sudah tembus di angka 500,” keluhnya.

Menurut Yaser, penggunaan LPG tidak hanya soal efisiensi, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kualitas makanan. Ia menilai penggunaan bahan bakar alternatif seperti minyak tanah justru dapat merusak cita rasa produk.

“Kita yang jual makanan susah, lengah sedikit makanan bisa bau minyak tanah,” ujarnya.

Dua Kapal Pertamina Tertahan di Teluk Arab, Tak Bisa Lintasi Selat Hormuz

Menanggapi keluhan tersebut, pihak PT Pertamina (Persero) melalui Sales Branch Manager Papua Tengah 1, Muhammad Rinaldi Suryanto, membenarkan adanya penyesuaian harga LPG non-subsidi.

Ia menjelaskan bahwa sejak 18 April 2026, harga Bright Gas ukuran 5,5 kg dan 12 kg mengalami kenaikan rata-rata sekitar 19 persen, seiring dengan fluktuasi harga energi global.

“Penyesuaian ini dilakukan bersamaan dengan kenaikan harga BBM non-subsidi,” jelasnya.

Meski demikian, Rinaldi menegaskan bahwa harga resmi di tingkat ex-agen masih berada di bawah harga yang beredar di lapangan. Berdasarkan data MyPertamina, harga Bright Gas 12 kg di wilayah Papua tercatat sekitar Rp285 ribu per tabung di tingkat agen.

Tingginya harga di Nabire, lanjutnya, lebih disebabkan oleh faktor distribusi. Wilayah Papua Tengah hingga kini belum memiliki fasilitas Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE), sehingga pasokan harus didatangkan dari daerah lain dengan biaya logistik yang tinggi.

ASN Tewas Ditembak di Yahukimo, TNI-Polri Kejar Pelaku hingga ke Hutan

Selain itu, harga resmi hanya berlaku untuk wilayah dengan radius maksimal 60 kilometer dari SPBE. Di luar radius tersebut, harga akan mengalami penyesuaian sesuai biaya distribusi.

Kondisi ini membuat harga LPG di tingkat konsumen melonjak signifikan dan berdampak langsung pada keberlangsungan usaha kecil.

Para pelaku usaha berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera mencari solusi untuk menekan harga LPG agar tetap terjangkau, sehingga aktivitas ekonomi masyarakat tidak semakin terpuruk.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement