Health & Fitness Nabire
Beranda / Nabire / Pemprov Papua Tengah Siapkan SDM Kesehatan Lokal untuk Operasional Rumah Sakit dan Fasilitas Modern 2029–2030

Pemprov Papua Tengah Siapkan SDM Kesehatan Lokal untuk Operasional Rumah Sakit dan Fasilitas Modern 2029–2030

NABIRE, PapuaTengah.news – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Meki Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley terus memperkuat transformasi sektor kesehatan melalui pembangunan fasilitas pelayanan kesehatan rujukan modern. Upaya tersebut dibarengi dengan penyiapan sumber daya manusia (SDM) kesehatan lokal agar putra-putri Papua Tengah dapat mengambil peran strategis dalam pengelolaan dan pelayanan di fasilitas kesehatan yang sedang dibangun.

Sejumlah fasilitas yang tengah direalisasikan melalui program prioritas pemerintah provinsi meliputi Rumah Sakit Provinsi Papua Tengah sebagai rumah sakit rujukan utama, Klinik Bersalin, Klinik Bayi Tabung atau In Vitro Fertilization (IVF), serta Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) berstandar nasional.

Seluruh fasilitas tersebut diproyeksikan mulai beroperasi secara penuh pada rentang 2029 hingga 2030. Untuk memastikan kesiapan tenaga kerja ketika fasilitas tersebut beroperasi, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah mulai memperluas sosialisasi pilihan pendidikan dan peluang karier di bidang kesehatan kepada para pelajar di berbagai kabupaten.

PENYIAPAN TENAGA KESEHATAN DIMULAI SEJAK DINI

Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, Kristianus Tebai, mengatakan penyiapan tenaga kesehatan membutuhkan perencanaan jangka panjang. Menurutnya, kebutuhan tenaga profesional tidak dapat dipenuhi secara mendadak menjelang pengoperasian rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lainnya.

Ia menjelaskan, pendidikan tenaga kesehatan pada jenjang Diploma Tiga (D3) membutuhkan waktu sekitar tiga tahun, sedangkan Diploma Empat (D4) atau Sarjana Terapan membutuhkan waktu sekitar empat tahun.

HUT ke-4 HKJSM Nabire Perkuat Kerukunan dan Pelestarian Budaya di Tanah Papua

Karena itu, sosialisasi kepada pelajar perlu dilakukan sejak sekarang agar generasi muda memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri dan menempuh pendidikan sesuai kebutuhan tenaga kesehatan di daerah.

“Tahun 2026 kami sudah melakukan sosialisasi ke beberapa sekolah di beberapa kabupaten. Kami berharap di tahun 2027 nanti sosialisasi tetap akan kami lancarkan secara masif. Tujuan utamanya agar para orang tua, keluarga, dan masyarakat luas bisa ikut membagikan informasi peluang kerja ini kepada adik-adik atau saudara-saudara kita yang memiliki keinginan untuk melanjutkan ke pendidikan sekolah kesehatan,” ujar Kristianus Tebai di Nabire.

Ia menilai keterlibatan orang tua dan lingkungan masyarakat sangat penting dalam memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai pilihan pendidikan yang memiliki prospek sesuai kebutuhan pembangunan sektor kesehatan Papua Tengah.

FASILITAS KESEHATAN DITARGETKAN BEROPERASI 2029–2030

Kristianus menjelaskan, sosialisasi pendidikan kesehatan merupakan bagian dari upaya mendukung program prioritas dalam visi dan misi Gubernur Meki Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley.

Menurutnya, ketika Rumah Sakit Provinsi, Klinik Bersalin, Klinik Bayi Tabung, dan Labkesda mulai beroperasi pada 2029–2030, pemerintah daerah diharapkan sudah memiliki calon tenaga kesehatan lokal yang memenuhi kualifikasi.

Geografis dan Akses Transportasi Jadi Tantangan Pembangunan Enam Kabupaten Pegunungan di Papua Tengah

“Dalam rangka menyukseskan Program Prioritas Visi Misi Gubernur Meki Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley, sosialisasi kita lakukan mulai dari sekarang. Jadi ketika fasilitas pelayanan RS Provinsi, Klinik Bersalin, Klinik Bayi Tabung, dan Labkesda diperkirakan beroperasi pada tahun 2029/2030 nanti, proses penyerapan dan pendayagunaan tenaga kesehatan putra-putri daerah dapat langsung kita berlakukan secara maksimal,” tegasnya.

Ia menambahkan, fasilitas kesehatan modern membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi khusus, terutama untuk mendukung pengoperasian peralatan medis dan pelayanan berbasis teknologi.

PELUANG PENDIDIKAN KESEHATAN TIDAK HANYA KEPERAWATAN

Dinas Kesehatan Papua Tengah mendorong para lulusan SMA dan SMK agar memperluas pilihan pendidikan di bidang kesehatan. Kristianus mengingatkan bahwa kebutuhan tenaga kesehatan tidak hanya terbatas pada perawat dan bidan, tetapi juga mencakup berbagai bidang pendidikan vokasi dan keahlian teknis.

Salah satu bidang yang memiliki peran penting adalah Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM). Tenaga ini dibutuhkan untuk melakukan pemeriksaan spesimen darah, kimia klinik, patologi, serta mendukung pelayanan pemeriksaan laboratorium di Labkesda dan Klinik Bayi Tabung.

Selain itu, bidang radiologi melalui pendidikan radiografer atau Ahli Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO) juga menjadi salah satu kebutuhan. Tenaga tersebut berperan dalam mendukung pemeriksaan menggunakan peralatan seperti CT-Scan, MRI, dan Mammografi, termasuk memperhatikan aspek keselamatan radiasi.

Dikukuhkan sebagai Ketua PSSI Papua Tengah, Deinas Geley Fokus Bangun Pembinaan Sepak Bola dan Regenerasi Pemain Muda

Bidang Teknik Elektromedik (ATEM) juga dinilai penting untuk menunjang operasional fasilitas kesehatan. Tenaga elektromedik bertugas melakukan pengujian, kalibrasi, pemeliharaan, serta memastikan keamanan penggunaan peralatan medis seperti ventilator, mesin anestesi, inkubator, dan alat hemodialisis.

TENAGA REKAM MEDIS, GIZI, DAN KEAHLIAN KHUSUS TURUT DIBUTUHKAN

Selain bidang laboratorium, radiologi, dan elektromedik, kebutuhan tenaga kesehatan juga mencakup Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK).

Tenaga RMIK diperlukan untuk mendukung pengelolaan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), pengodean penyakit, serta penerapan Rekam Medis Elektronik (RME). Peran tersebut penting dalam memastikan pengelolaan data pasien dan administrasi pelayanan kesehatan berjalan secara terstruktur.

Bidang gizi juga menjadi bagian penting dalam pelayanan rumah sakit. Tenaga ahli gizi, dietisien, dan nutrisionis dibutuhkan untuk memberikan pelayanan nutrisi klinis bagi pasien serta mendukung program tumbuh kembang anak.

Sementara itu, sejumlah bidang vokasi kesehatan lainnya yang perlu mendapat perhatian meliputi penata anestesi, sanitarian atau tenaga kesehatan lingkungan, fisioterapi, terapi wicara, terapi okupasi, teknisi kardiovaskuler, ortotik prostetik, hingga teknisi transfusi darah.

Kristianus menilai pemahaman mengenai beragam pilihan pendidikan tersebut perlu diperluas agar generasi muda Papua Tengah dapat menentukan bidang studi yang sesuai dengan minat sekaligus kebutuhan tenaga kerja di fasilitas pelayanan kesehatan.

INGATKAN PELAJAR PILIH KAMPUS TERAKREDITASI

Di sisi lain, Dinas Kesehatan Papua Tengah juga mengingatkan para pelajar dan orang tua agar cermat dalam memilih institusi pendidikan kesehatan.

Kristianus menegaskan bahwa calon mahasiswa perlu memastikan perguruan tinggi atau lembaga pendidikan yang dipilih memiliki akreditasi resmi dan memenuhi ketentuan peraturan yang berlaku.

Ia menjelaskan, tenaga kesehatan yang nantinya bekerja pada fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah harus memenuhi persyaratan pendidikan, kompetensi, dan registrasi profesi sesuai ketentuan perundang-undangan. Persyaratan tersebut termasuk kepemilikan Surat Tanda Registrasi (STR) apabila diwajibkan bagi profesi yang bersangkutan.

“Anak-anak sekolah wajib tahu masa depan mereka melalui informasi yang benar dan akurat. Pilih sekolah atau kampus yang unggul dan terakreditasi resmi (LAM-PTKes). Jangan pilih sekolah murahan yang hanya mencetak SDM tidak berkualitas,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan peralatan medis berteknologi tinggi di Rumah Sakit Provinsi maupun Labkesda berkaitan langsung dengan keselamatan pasien. Oleh sebab itu, setiap tenaga yang direkrut harus memiliki latar belakang pendidikan, keterampilan, dan kompetensi sesuai bidang tugas masing-masing.

PUTRA-PUTRI PAPUA TENGAH DIHARAPKAN ISI KEBUTUHAN TENAGA PROFESIONAL

Melalui sosialisasi yang telah dimulai sejak 2026 dan direncanakan berlangsung lebih masif pada 2027, Pemprov Papua Tengah berharap dapat membangun fondasi SDM kesehatan lokal secara terencana dan berkelanjutan.

Langkah tersebut diharapkan memberikan kesempatan lebih luas kepada putra-putri daerah untuk mempersiapkan diri melalui pendidikan kesehatan, baik pada jenjang diploma maupun sarjana terapan.

Dengan demikian, ketika Rumah Sakit Provinsi, Klinik Bersalin, Klinik Bayi Tabung, dan Labkesda mulai beroperasi pada 2029–2030, kebutuhan tenaga profesional dan teknis kesehatan diharapkan dapat dipenuhi melalui sumber daya manusia yang telah dipersiapkan sejak dini.

Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan memperkuat kemandirian tenaga kesehatan lokal di delapan kabupaten Provinsi Papua Tengah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement