Ekonomi Mimika
Beranda / Mimika / Gubernur Papua Tengah Serahkan Lima Jenis Alat Pascapanen Kopi untuk Kelompok Tani Tunas Jaya di Mimika

Gubernur Papua Tengah Serahkan Lima Jenis Alat Pascapanen Kopi untuk Kelompok Tani Tunas Jaya di Mimika

TIMIKA, PapuaTengah.news – Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa menyerahkan bantuan peralatan pascapanen kopi kepada Kelompok Tani Tunas Jaya di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Sabtu. Bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memperkuat usaha pertanian, meningkatkan nilai tambah produk kopi, serta mendorong kesejahteraan petani lokal.

Meki mengatakan, pengembangan usaha kopi tidak cukup hanya mengandalkan hasil panen yang berkualitas, tetapi juga harus didukung pengolahan dan pengemasan produk yang mampu bersaing di pasar.

“Kopi ini rasanya sama, di pasar (market) yang membedakan adalah kemasannya. Petani kopi juga sudah harus berpikir bagaimana kemasannya. Nanti kami akan bicara dengan kepala dinas Mimika dan juga provinsi agar kemasan apa yang cocok untuk membanggakan kita punya daerah ini,” ujar Meki di Timika.

Menurutnya, bantuan peralatan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh kelompok tani untuk mengembangkan usaha kopi, sehingga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan pendapatan petani dan perekonomian masyarakat.

LIMA JENIS ALAT DUKUNG PENGOLAHAN KOPI

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Papua Tengah, Rafael Heri Nugroho, menjelaskan bahwa bantuan tersebut merupakan bagian dari komitmen Gubernur Papua Tengah untuk menjadikan kopi sebagai salah satu komoditas unggulan dan sumber peningkatan kesejahteraan masyarakat asli Papua Tengah.

Gubernur Papua Tengah Dukung IFRC 2026 di Timika, Perkuat Kompetensi dan Kesiapsiagaan Penyelamatan

Adapun bantuan yang diserahkan kepada Kelompok Tani Tunas Jaya terdiri atas lima jenis peralatan, yakni satu unit mesin pengupas kulit kopi basah (pulper), satu unit mesin pengupas kulit kopi kering (huller), satu unit mesin sangrai (roasting), satu unit mesin penggiling (grinder), serta satu unit alat penyegel kemasan.

Rafael mengatakan, selama ini petani masih menghadapi berbagai kendala dalam proses pascapanen. Sebagian tahapan pengolahan masih dilakukan secara manual, sehingga membutuhkan waktu lebih lama dan menghasilkan mutu biji kopi yang belum seragam.

“Selama ini petani masih menghadapi kendala di tahap pascapanen. Banyak pengolahan masih dilakukan secara manual, sehingga mutu biji belum seragam, waktu pengolahan lama, dan harga jual di tingkat petani masih rendah. Padahal kualitas kopi sangat ditentukan oleh penanganan setelah panen,” jelasnya.

Dengan tersedianya peralatan tersebut, petani diharapkan dapat meningkatkan kualitas hasil pengolahan sekaligus memperluas jenis produk yang dipasarkan.

DORONG NILAI TAMBAH DAN DAYA SAING KOPI LOKAL

Pemanfaatan mesin pascapanen diharapkan memungkinkan petani mengolah hasil kebun menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi. Petani tidak hanya menjual buah kopi merah atau cherry, tetapi juga dapat menghasilkan biji kopi hijau (green bean) maupun kopi bubuk siap dipasarkan.

Pesawat Caravan Asian One Air Tergelincir di Bandara Bilorai Intan Jaya, Dua Anggota TNI Terluka

Langkah tersebut diharapkan berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan kelompok tani. Selain itu, pengolahan yang lebih baik dapat membantu produk kopi Papua Tengah memenuhi standar pasar dan semakin dikenal, baik di tingkat nasional maupun pasar ekspor.

Untuk memastikan bantuan dapat digunakan secara berkelanjutan, Dinas Perkebunan dan Peternakan Papua Tengah juga akan memberikan bimbingan teknis mengenai pengoperasian dan perawatan peralatan, disertai pendampingan oleh penyuluh di lapangan.

Dengan demikian, bantuan tidak hanya berupa penyediaan sarana produksi, tetapi juga disertai upaya meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola usaha kopi secara lebih efektif.

PEMERINTAH BUKA PELUANG DUKUNGAN USAHA BAGI PETANI

Selain menyerahkan peralatan, Gubernur Meki Nawipa menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Papua Tengah sedang mengembangkan sistem aplikasi yang dapat digunakan petani, nelayan, dan koperasi untuk mengajukan proposal dukungan anggaran bagi pengembangan usaha berkelanjutan.

Melalui sistem tersebut, masyarakat dari berbagai wilayah, baik pegunungan maupun pesisir, diharapkan memiliki kesempatan untuk mengusulkan kegiatan usaha sesuai potensi daerah masing-masing.

BMP Paniai Gelar Sosialisasi Organisasi dan Bagikan Sembako kepada Warga di Nabire

“Kalau aplikasi yang sedang dikembangkan provinsi ini sudah buka, silakan masukkan proposal. Semua orang baik di wilayah gunung, pesisir, baik nelayan maupun kelompok tani untuk masukkan proposal dan nanti dari tim kajian yang akan mengkaji itu dan siapa yang dapat dan siapa tidak dapat,” kata Meki.

Ia menjelaskan, proposal yang masuk nantinya akan melalui proses kajian untuk menentukan kelayakan dan penerima dukungan. Skema ini diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap bantuan pengembangan usaha sekaligus mendorong kegiatan ekonomi produktif di Papua Tengah.

KELOMPOK TANI APRESIASI DUKUNGAN PEMERINTAH

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Mimika (DTPHP), Abdul Haris Sudarmono, menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Papua Tengah yang telah memperjuangkan bantuan peralatan pascapanen kopi tersebut.

Menurut Abdul Haris, bantuan lima jenis peralatan itu diperoleh melalui dukungan Direktur Hilirisasi pada Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, sebelum diserahkan kepada Kelompok Tani Tunas Jaya.

Ia berharap bantuan serupa dapat diusulkan kembali untuk kelompok tani lainnya agar manfaat pengembangan pengolahan kopi dapat menjangkau lebih banyak petani di Kabupaten Mimika.

Ketua Kelompok Tani Tunas Jaya, Yuen Tabuni, juga menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diterima. Ia mengatakan, selama ini petani masih mengandalkan cara manual dalam mengupas dan mengolah kopi, terutama pada tahap pascapanen.

“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Gubernur, karena selama ini kami kupas manual, sekarang dengan mesin ini sangat membantu kami,” ujar Yuen.

Yuen diketahui mengelola kebun kopi jenis robusta dengan luas sekitar empat hektare. Dengan adanya peralatan tersebut, ia berharap proses pengolahan kopi menjadi lebih mudah dan efisien, sehingga kelompok tani dapat meningkatkan kualitas produk serta mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement