Nabire
Beranda / Nabire / PLN UP3 Nabire Siapkan Rp3,58 Triliun untuk Perluasan Akses Listrik di Lima Kabupaten

PLN UP3 Nabire Siapkan Rp3,58 Triliun untuk Perluasan Akses Listrik di Lima Kabupaten

NABIRE, PapuaTengah.news – PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Nabire terus mendorong pemerataan akses listrik sebagai bagian dari upaya menghadirkan layanan kelistrikan bagi masyarakat di seluruh wilayah kerjanya.

Asisten Manajer Perencanaan PLN UP3 Nabire, Alfonso Hasian, mengatakan hal tersebut saat menyampaikan pemaparan di Aula RRI Nabire, Jumat (25/9/2026).

LAYANI 74.300 PELANGGAN DI LIMA KABUPATEN

Menurut Alfonso, PLN UP3 Nabire saat ini melayani sekitar 74.300 pelanggan yang tersebar di lima kabupaten, yakni Nabire, Paniai, Deiyai, Dogiyai dan Intan Jaya.

Adapun kapasitas terpasang pembangkit listrik di wilayah kerja tersebut telah mencapai 47,55 megawatt (MW).

Meski demikian, PLN masih menghadapi tantangan dalam memperluas akses listrik hingga ke seluruh kampung. Saat ini rasio desa berlistrik di wilayah kerja UP3 Nabire tercatat sebesar 33,21 persen.

Pemprov Papua Tengah Dorong PLN Perluas Edukasi Penggunaan Kompor Induksi

“Kapasitas terpasang pembangkit kita adalah sebesar 47,55 MW. Juga kita mempunyai tantangan atau challenge kritis yang harus kita upayakan karena ini menyangkut keadilan sosial. Jadi apa yang dirasakan di kota harus dirasakan oleh semua masyarakat kita, yaitu rasio desa berlistrik kita yang masih 33,21% dari semua desa yang ada di UP3 Nabire,” ujar Alfonso.

DIDUKUNG ANGGARAN RP3,58 TRILIUN

Untuk mengejar pemerataan tersebut, PLN UP3 Nabire mendapat dukungan dari PLN UP2K Papua Tengah dalam pengembangan jaringan kelistrikan.

Program pembangunan dan perluasan jaringan tersebut telah dipetakan hingga 2029 dengan dukungan anggaran mencapai Rp3,58 triliun.

“Dan juga dalam untuk memenuhinya, kita juga dibantu oleh PLN UP2K Papua Tengah, yang nanti mungkin sampai 2029 kerja keras, kerja keras untuk menyelesaikan atau membangun jaringan listrik kita untuk memenuhi rasio desa berlistrik dengan anggaran sebesar Rp3,58 triliun,” ungkapnya.

Alfonso menilai dukungan pemerintah daerah, pemangku kepentingan dan masyarakat sangat dibutuhkan agar pembangunan infrastruktur kelistrikan dapat berjalan sesuai rencana.

TNI-Polri dan Satpol PP Siagakan Pengamanan Penyampaian Aspirasi Mahasiswa di Nabire

“Artinya itu anggaran yang besar, butuh dukungan dari pemerintah daerah, stakeholder lainnya dan juga masyarakat, karena ini dibangun PLN atas perintah negara dengan anggaran yang dikucurkan,” tegasnya.

RASIO KELISTRIKAN ANTARWILAYAH BERBEDA

Kondisi geografis membuat tingkat elektrifikasi desa di lima kabupaten tersebut masih menunjukkan perbedaan.

Kabupaten Deiyai tercatat memiliki rasio desa berlistrik sebesar 76,80 persen, disusul Nabire 69,14 persen. Sementara Dogiyai berada di atas separuh dengan rasio 50,63 persen.

“Nabire sendiri yang aksesnya gampang, daerahnya juga pesisir-daratan, kita masih mencapai 69,14%. Artinya masih banyak desa atau kampung yang belum berlistrik. Kabupaten Deiyai yang lebih tinggi, rasio desa berlistriknya sebesar 76,80%. Dogiyai juga sudah bagus di atas 50% sebanyak 50,63%,” jelas Alfonso.

Kondisi berbeda terlihat di Paniai dan Intan Jaya yang memiliki tantangan akses lebih besar. Rasio desa berlistrik Paniai masih berada di angka 13,57 persen.

Sekber Papua Tengah Percepat Validasi Data Penerima Program Bangkit Papua Tengah

Sementara Intan Jaya menjadi salah satu wilayah dengan tantangan pembangunan jaringan paling besar. Akses menuju wilayah tersebut masih sangat terbatas dan sebagian kebutuhan logistik pembangunan harus dilakukan melalui jalur udara.

TARGETKAN LAYANAN LISTRIK DI INTAN JAYA

Alfonso menyebut rasio desa berlistrik di Intan Jaya saat ini baru mencapai 4,12 persen. Kondisi tersebut menjadi salah satu pekerjaan besar PLN dalam memperluas layanan kelistrikan di Papua Tengah.

PLN juga menyiapkan program agar masyarakat di Intan Jaya dapat menikmati pasokan listrik selama 24 jam.

“Paniai masih sangat kecil, dengan akses jalan darat terbatas sebesar 13,57%. Dan juga yang menjadi PR kita, PR besar kita adalah Kabupaten Intan Jaya. Di sini aksesnya terbatas hanya lewat udara, dengan rasio desa berlistrik kita masih 4,12%. Di Intan Jaya sendiri kita juga punya program untuk bagaimana mereka bisa merasakan listrik 24 jam,” pungkas Alfonso.

Perluasan jaringan hingga wilayah yang belum teraliri listrik tersebut diharapkan dapat memperkecil kesenjangan layanan sekaligus meningkatkan pemerataan akses energi bagi masyarakat di lima kabupaten wilayah kerja PLN UP3 Nabire.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement