Nabire — Wakil Ketua I Dewan Pimpinan Daerah Barisan Merah Putih Republik Indonesia (DPD BMP RI) Provinsi Papua Tengah, Samuel Sauwyar, mengecam keras aksi kekerasan brutal yang terjadi di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, pada Senin, 2 Februari 2026. Ia menilai peristiwa tersebut sebagai tindakan tidak beradab yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan mengancam rasa aman masyarakat sipil.
Pernyataan tersebut disampaikan Samuel Sauwyar saat ditemui di salah satu warung makan di Nabire, Selasa (4/2/2026). Ia menegaskan bahwa aksi kekerasan yang menewaskan warga sipil tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.
“Ini adalah tindakan tidak manusiawi dan sangat merugikan banyak pihak. Saya mengecam keras aksi keji ini, terlebih karena telah menghilangkan nyawa orang yang tidak bersalah,” tegas Samuel.
Peristiwa tragis tersebut mengakibatkan Frengki (55), seorang pekerja di Sekolah Yakpesmi Yahukimo, meninggal dunia akibat serangan senjata tajam. Selain merenggut nyawa korban, para pelaku juga dilaporkan melakukan pengrusakan terhadap kendaraan dan fasilitas sekolah.
Kronologis Kejadian
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa terjadi pada Senin, 2 Februari 2026, sekitar pukul 09.30–10.45 WIT, di lingkungan Sekolah Yakpesmi Yahukimo, Jalan Seradala, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo.
Sekitar pukul 09.30 WIT, saksi Dason Wakla, seorang guru di sekolah tersebut, mendengar satu kali bunyi tembakan dari arah belakang sekolah. Tak lama kemudian, korban Frengki yang saat itu sedang bekerja membuat meja dan kursi sekolah berlari menuju ruang guru untuk menyelamatkan diri.
Korban diketahui dikejar oleh tiga orang pelaku yang kemudian memaksa masuk ke ruang guru. Meski sempat dihalangi oleh saksi, para pelaku tetap masuk dan langsung melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam, hingga korban meninggal dunia di tempat.
Setelah memastikan korban tewas, para pelaku melarikan diri sambil melakukan aksi pengrusakan. Mereka merusak kendaraan roda empat jenis Toyota Calya milik Kepala Sekolah Yakpesmi, Sem Wale, serta memecahkan kaca ruang kelas dengan lemparan batu.
Penanganan Aparat
Sekitar pukul 09.35 WIT, Kepala Sekolah Yakpesmi melaporkan kejadian tersebut ke Polres Yahukimo. Aparat kepolisian gabungan yang dipimpin Iptu Samuel Yunus, Kasat Intelkam Polres Yahukimo, segera bergerak ke lokasi dan tiba sekitar pukul 09.46 WIT untuk melakukan pengamanan.
Jenazah korban kemudian dievakuasi ke RSUD Dekai sekitar pukul 10.30 WIT guna proses identifikasi serta penanganan lebih lanjut oleh Satreskrim Polres Yahukimo.
Aktivitas Belajar Dihentikan
Saat kejadian berlangsung, aktivitas belajar mengajar sedang berlangsung di Sekolah Yakpesmi. Para guru langsung mengamankan siswa di dalam ruang kelas. Setelah situasi dinyatakan kondusif dan pelaku meninggalkan lokasi, seluruh siswa dipulangkan demi alasan keamanan.
Dari keterangan para saksi, ketiga pelaku diketahui membawa handphone, kapak, dan senjata tajam saat melakukan aksi kekerasan. Korban Frengki sendiri diketahui telah bekerja di Sekolah Yakpesmi sejak Desember 2025 untuk membantu pembuatan meja dan kursi sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar.
Desakan Penegakan Hukum
Samuel Sauwyar menegaskan bahwa kasus ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Ia mendesak aparat keamanan untuk bertindak tegas, mengusut tuntas peristiwa tersebut, serta menangkap para pelaku agar diproses sesuai hukum yang berlaku.
“Kejadian ini tidak boleh dibiarkan. Negara harus hadir untuk menjamin keamanan masyarakat, khususnya tenaga pendidik dan warga sipil di Papua,” pungkasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kekerasan terhadap masyarakat sipil, terlebih di lingkungan pendidikan, hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat dan merusak masa depan generasi Papua.

Komentar