Mimika – Tokoh adat Papua dari Kabupaten Keerom, Herman Yoku, bersama para pemuda dari berbagai wilayah, kembali menyuarakan keprihatinan mendalam atas rentetan kekerasan yang terus terjadi di Tanah Papua.
Mereka menilai konflik berkepanjangan hanya akan memperdalam trauma kolektif masyarakat, terutama di daerah terpencil yang selama ini sudah menghadapi berbagai keterbatasan.
Situasi keamanan yang tidak stabil disebut berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Akses pendidikan terganggu, layanan kesehatan terhambat, serta pembangunan infrastruktur menjadi terhenti. Kondisi ini dinilai semakin memperlebar kesenjangan sosial di Papua.
Menurut para tokoh, generasi muda menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari konflik tersebut. Anak-anak kehilangan rasa aman untuk belajar, tenaga kesehatan menghadapi ancaman saat bertugas, dan aktivitas ekonomi masyarakat ikut tertekan.
Dalam pernyataan bersama, sejumlah elemen masyarakat sipil seperti Barisan Merah Putih RI dan Aliansi Pemuda Papua Papua Tengah menegaskan pentingnya menghentikan siklus kekerasan yang terus berulang.
Mereka menyerukan agar seluruh pihak mengedepankan dialog sebagai jalan utama dalam menyelesaikan persoalan. Stabilitas keamanan dinilai menjadi kunci untuk membuka akses pembangunan, meningkatkan kesejahteraan, serta menjamin masa depan generasi Papua yang lebih baik.
Seruan ini menjadi pengingat bahwa harapan akan Papua yang damai masih terus hidup—sebuah tanah yang diidamkan bebas dari kekerasan, demi kehidupan yang aman dan bermartabat bagi seluruh masyarakat.

Komentar