Nabire – Gelombang kekerasan yang terus terjadi di berbagai wilayah Papua memantik keprihatinan mendalam dari tokoh adat dan kalangan pemuda. Rentetan insiden berdarah — mulai dari pembunuhan pekerja sipil di Yahukimo, penembakan aparat di Mimika, hingga tewasnya pilot dan kopilot pesawat perintis di Boven Digoel — dinilai telah melampaui batas kemanusiaan.
Bagi banyak pihak, peristiwa-peristiwa tersebut bukan lagi sekadar dinamika konflik bersenjata, melainkan ancaman nyata terhadap kehidupan masyarakat sipil dan masa depan generasi Papua.
Suara Tegas dari Organisasi Masyarakat
Sejumlah organisasi seperti Barisan Merah Putih RI, Pemuda Adat Saireri II, Badan Musyawarah Adat Papua Papua Tengah, Forum Peduli Masyarakat Adat Papua, serta Aliansi Pemuda Papua di Papua Tengah menyatakan sikap bersama mengecam kekerasan yang terus berulang.
Dalam pernyataan sikapnya, Samuel Sauwyar selaku Wakil Ketua DPD BMP RI Papua Tengah menegaskan bahwa setiap pertumpahan darah mencederai nilai sakral Tanah Papua.
“Tanah Papua adalah tanah Injil dan wilayah yang diberkati. Setiap tetesan darah yang tumpah di atas tanah ini adalah noda yang mencoreng kesucian Papua,” ujarnya, Senin (16/2/2026).
Trauma Kolektif dan Ancaman Pembangunan
Para tokoh adat menilai kekerasan berkepanjangan hanya akan memperdalam trauma kolektif masyarakat. Situasi tidak aman membuat akses pendidikan, layanan kesehatan, dan pembangunan infrastruktur di wilayah terpencil semakin terhambat.
Mereka mengingatkan bahwa generasi muda Papua adalah pihak yang paling dirugikan ketika konflik terus berulang. Anak-anak kehilangan rasa aman untuk belajar, tenaga kesehatan terancam, dan roda ekonomi masyarakat tersendat.
Seruan Damai untuk Masa Depan Papua
Melalui pernyataan bersama ini, tokoh adat dan pemuda menyerukan agar seluruh pihak mengedepankan dialog dan menolak segala bentuk kekerasan. Stabilitas keamanan, menurut mereka, adalah kunci untuk membuka jalan kesejahteraan dan kemajuan Papua.
Di tengah situasi yang memanas, suara masyarakat sipil ini menjadi pengingat bahwa harapan akan Papua yang damai tetap hidup — sebuah tanah yang ingin berdiri tanpa darah dan tanpa rasa takut, demi masa depan yang lebih baik bagi semua.

Komentar