Deiyai — Setahun terakhir menjadi fase penting bagi Dinas Sosial Kabupaten Deiyai. Di bawah kepemimpinan Yulita Mote, S.S., wajah pelayanan sosial mulai mengalami perubahan nyata—lebih inklusif, lebih responsif, dan berani menjangkau wilayah-wilayah terpencil yang selama ini minim sentuhan negara.
Sejak 2025, Yulita mendorong pembenahan sistem pelayanan sosial yang sejalan dengan visi Bupati Deiyai Melkianus Mote dan Wakil Bupati Ayub Pigome menuju Deiyai Enaimo Ekowai. Fokus utamanya tegas: memastikan kehadiran negara benar-benar dirasakan hingga ke kampung-kampung paling jauh.
“Pelayanan sosial tidak boleh berhenti di ibu kota kabupaten,” tegas Yulita. Prinsip tersebut diterjemahkan dalam kebijakan pelayanan berbasis wilayah terpencil, dengan menempatkan masyarakat sebagai pusat dari setiap program sosial.
Upaya itu diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah, BUMN, hingga aparat kampung dilibatkan untuk mempercepat penanganan persoalan sosial yang selama ini terkendala kondisi geografis. Salah satu program terbesar yang dijalankan adalah penyaluran bantuan sosial sembako dan Program Keluarga Harapan (PKH) tahap III batch MC-A01 periode Juli–September 2025.
Bekerja sama dengan PT Pos Indonesia, bantuan sosial senilai sekitar Rp13 miliar disalurkan kepada ribuan keluarga penerima manfaat di berbagai distrik di Kabupaten Deiyai.
Dalam beberapa pekan terakhir, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial bersama jajaran turun langsung ke lapangan untuk memastikan akurasi data penerima bantuan. Tiga distrik di sekitar ibu kota kabupaten—Tigi, Tigi Timur, dan Tigi Barat—menjadi fokus pendataan lanjutan.
Tak berhenti di wilayah yang mudah dijangkau, Yulita juga memimpin langsung kunjungan ke dua distrik terpencil, Bowobado dan Kapiraya, yang hanya dapat diakses melalui transportasi udara. Di Kampung Mudetadi, Distrik Bowobado, ia menyaksikan secara langsung keterbatasan akses layanan yang dihadapi masyarakat.
“Pemerintah harus hadir sampai ke kampung-kampung paling jauh,” ujarnya di hadapan warga, menegaskan komitmen pelayanan tanpa diskriminasi wilayah.
Selain program bantuan sosial, Dinas Sosial Deiyai juga menginisiasi kegiatan kemanusiaan Santa Claus Go To Village pada Desember 2025. Kegiatan ini melibatkan para kepala organisasi perangkat daerah, aparatur pemerintah, kepala kampung, dan masyarakat, sebagai simbol kehadiran negara yang humanis.
Dalam kesempatan tersebut, Yulita menekankan bahwa pelayanan sosial tidak boleh semata administratif, tetapi harus menyentuh sisi kemanusiaan masyarakat. “Negara harus hadir bukan hanya dengan data dan angka, tetapi dengan empati dan kepedulian,” ujarnya.
Dedikasi Yulita Mote dinilai menjadi contoh kepemimpinan aparatur sipil negara di Papua, khususnya bagi perempuan di ruang publik. Baginya, kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan keberanian untuk turun, melihat, dan melayani secara langsung.
Catatan satu tahun kepemimpinannya kini menjadi fondasi bagi empat tahun ke depan. Penguatan data keluarga miskin, pelayanan sosial berbasis wilayah terpencil, serta kolaborasi lintas sektor ditetapkan sebagai prioritas utama.
Kisah masa kecil, pandangan hidup, serta arah kebijakan sosial Yulita Mote akan diulas lebih mendalam dalam laporan lanjutan, setelah penulis bertemu langsung dengan Bupati Deiyai Melkianus Mote dan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Deiyai.

Komentar