Mimika – Menyambut bulan suci Ramadan 1447 H/2026 M, Kerukunan Keluarga Jawa Bersatu (KKJB) Kabupaten Mimika mendeklarasikan “Jawa Manunggal” dan menggelar Kirab Seni Budaya di Lapangan Eks Pasar Swadaya Timika, Minggu (15/2).
Deklarasi yang dibacakan langsung Ketua Umum KKJB Mimika, H. Syaikuri, dihadiri Staf Ahli Bupati Mimika Bidang SDM Setda Mimika Fransiskus Bokeyau yang mewakili Bupati Johannes Rettob, serta ribuan masyarakat Jawa dari 22 cabang, paguyuban, dan komunitas di Kabupaten Mimika.
Dengan penuh khidmat, seluruh peserta mengikuti ikrar bersama sebagai bentuk komitmen menjaga persatuan, setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila.
Kirab seni dan budaya digelar menggunakan kendaraan hias dengan konvoi yang melintasi rute Pasar Lama – Jalan Yos Sudarso – Belibis – Budi Utomo – Hasanuddin – Yos Sudarso dan kembali ke lokasi acara. Sepanjang rute, peserta menampilkan ragam kesenian dan atribut budaya Jawa sebagai simbol pelestarian tradisi di tanah rantau.
Syaikuri menyampaikan bahwa deklarasi tersebut menjadi penegasan kesetiaan KKJB terhadap NKRI, komitmen untuk tetap solid dalam satu wadah organisasi, serta kesiapan aktif berkontribusi dalam pembangunan Kabupaten Mimika.
“KKJB tetap bersatu, KKJB tetap manunggal. Demi orang Jawa, demi Kabupaten Mimika, orang Jawa harus bermanfaat bagi Mimika,” ujarnya.
Ia menambahkan, kirab budaya yang menampilkan berbagai kesenian Jawa menjadi simbol kecintaan terhadap warisan leluhur sekaligus wujud menjaga identitas budaya di tengah keberagaman Papua.
“Kegiatan ini juga menjadi ruang mempererat kebersamaan lintas paguyuban,” katanya.
Sementara itu, Fransiskus Bokeyau saat membacakan sambutan Bupati Mimika menyampaikan bahwa kirab budaya bukan sekadar perayaan, melainkan bentuk nyata menjaga jati diri bangsa.
Menjelang Ramadan, kegiatan tersebut dinilai memiliki makna penting untuk memperkuat keimanan, menumbuhkan toleransi, serta mempererat solidaritas sosial di tengah masyarakat Mimika yang majemuk.
“Semangat Jawa Manunggal harus menjadi perekat persaudaraan dalam bingkai NKRI, di mana perbedaan bukan pemisah, tetapi kekuatan untuk membangun kebersamaan di tanah Papua,” tuturnya.

Komentar