Hukum & Kriminal Mimika Nasional
Beranda / Nasional / Pj Sekda Mimika Minta Kapolda Papua Tengah Antisipasi Potensi Perang Suku di Kwamki Narama

Pj Sekda Mimika Minta Kapolda Papua Tengah Antisipasi Potensi Perang Suku di Kwamki Narama

Timika — Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Mimika yang juga tokoh masyarakat Mimika, Abraham Kateyau, meminta Kapolda Papua Tengah, Jeremias Rontini, untuk segera mengantisipasi potensi perang suku di wilayah Kwamki Narama.

Permintaan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya konsentrasi massa yang membawa senjata tajam dalam tiga hari terakhir di kawasan tersebut, yang dinilai berpotensi memicu konflik terbuka antar kelompok.

“Saya minta Bapak Kapolda Papua Tengah bersama jajaran Polres Mimika bisa mengantisipasi potensi konflik ini. Aparat harus bertindak tegas memutus mata rantai perang suku supaya tidak ada lagi aksi saling bunuh di antara orang Papua,” tegas Abraham.

Ia menilai seluruh pihak perlu bekerja sama menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, khususnya dalam menghentikan konflik berkepanjangan yang kerap memakan korban jiwa.

Menurut Abraham, konflik yang terus berulang membawa dampak serius terhadap keberlangsungan hidup Orang Asli Papua (OAP), terutama di tengah berbagai tantangan sosial lainnya.

Kepala Suku Besar Wate Kecam Pembunuhan Pilot, Guru, Nakes hingga Ojek di Papua: Kejahatan Keji dan Tidak Manusiawi

“Jumlah orang Papua semakin sedikit karena faktor kesehatan, mabuk-mabukan, dan saling bunuh. Kalau ini terus terjadi, jumlah kita akan terus menurun,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa perang suku tidak dibenarkan, baik dari sisi agama maupun nilai adat yang berlaku di Tanah Papua.

“Tuhan larang, adat juga larang. Perang suku tidak boleh ada. Karena itu kepala suku dan tokoh masyarakat harus ikut memberikan imbauan damai,” katanya.

Selain aspek keamanan, Abraham juga menyoroti dampak konflik terhadap pembangunan daerah. Menurutnya, situasi yang tidak kondusif membuat pemerintah kesulitan masuk dan menjalankan program pembangunan di wilayah Kwamki Narama.

Ia menyebut kelompok paling terdampak dari konflik tersebut adalah anak-anak sekolah, ibu-ibu, dan warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan, karena ruang gerak mereka menjadi sangat terbatas.

Warga Paniai Resah, Nama Demianus Magai Yogi Kembali Muncul dalam Dugaan Tekanan dan Permintaan Uang

“Yang jadi korban itu anak sekolah, ibu-ibu, dan orang sakit. Kita kasihan masa depan anak-anak kalau kondisi seperti ini terus dibiarkan,” ungkapnya.

Di akhir pernyataannya, Abraham juga menyampaikan ucapan selamat atas pelantikan Kapolda Papua Tengah yang baru, sembari berharap kepemimpinan baru dapat membawa perubahan dalam menjaga stabilitas keamanan di wilayah Papua Tengah.

Menurutnya, langkah cepat aparat bersama dukungan tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah sangat penting agar Kwamki Narama tidak terus menjadi titik konflik yang menghambat masa depan masyarakat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement