Puncak – Tokoh agama asal Puncak, Papua Tengah, Giman Magai, mengecam pernyataan juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) OPM, Sebby Sambom, yang menyerukan revolusi total melalui 36 Komando Daerah Pertahanan (Kodap).
Giman menilai pernyataan tersebut sebagai informasi yang tidak bertanggung jawab dan berpotensi menimbulkan ketakutan serta keresahan di tengah masyarakat Papua. Ia menegaskan bahwa seruan revolusi dan perang tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakat saat ini yang lebih mendambakan kedamaian dan pembangunan.
“Saya mengecam keras pernyataan yang menyerukan revolusi total. Informasi seperti itu hanya membuat masyarakat takut dan resah,” ujar Giman dalam keterangannya.
Giman yang mengaku pernah berada dalam lingkungan OPM pada masa lalu menyatakan bahwa kini dirinya memilih fokus pada pelayanan rohani dan pembangunan masyarakat. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bahwa konflik berkepanjangan tidak membawa kesejahteraan bagi rakyat.
“Saya mantan OPM, tetapi sekarang saya memilih jalan damai. Kita harus fokus membangun Tanah Papua yang diberkati ini. Tidak boleh ada perang. Yang harus ada adalah pembangunan,” tegasnya.
Sebagai pendeta, Giman menekankan pentingnya membangun kerohanian masyarakat sesuai ajaran Injil. Ia meyakini bahwa perubahan yang sejati harus dimulai dari hati yang damai dan semangat persaudaraan, bukan melalui kekerasan atau provokasi.
Menurutnya, ajaran Injil menekankan kasih, pengampunan, dan perdamaian sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menahan diri, tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya, serta tidak terprovokasi oleh seruan yang dapat memicu konflik baru.
“Mari kita bangun kerohanian yang baik, hidup dalam kasih dan persaudaraan. Stop memberikan informasi yang membuat masyarakat takut dan resah,” katanya.
Giman juga menilai bahwa masa depan Papua terletak pada pendidikan, pembangunan ekonomi, peningkatan pelayanan kesehatan, serta penguatan nilai-nilai moral dan spiritual. Konflik dan pertentangan, menurutnya, hanya akan menghambat kemajuan dan memperpanjang penderitaan masyarakat.
Ia berharap seluruh tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tokoh agama dapat bersinergi menjaga situasi tetap kondusif serta mendorong pembangunan yang berkelanjutan di Papua Tengah dan wilayah Papua secara umum.
“Papua adalah tanah yang diberkati. Kita harus menjaganya dengan damai, bukan dengan perang. Yang kita butuhkan hari ini adalah persatuan untuk membangun,” tutupnya.
Seruan tersebut menjadi bagian dari upaya tokoh agama di Papua Tengah untuk memperkuat pesan damai di tengah dinamika yang berkembang, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas demi kesejahteraan masyarakat luas.

Komentar