Hukum & Kriminal Mimika
Beranda / Mimika / Korban Tewas Seimbang, Konflik Kwamki Narama Mimika Resmi Berakhir Damai

Korban Tewas Seimbang, Konflik Kwamki Narama Mimika Resmi Berakhir Damai

Mimika – Konflik perang adat yang terjadi di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, akhirnya resmi berakhir damai. Kesepakatan damai dicapai setelah Pemerintah Kabupaten Mimika bersama Pemerintah Kabupaten Puncak mempertemukan dua kelompok yang bertikai, yakni kelompok Newegalen dan kelompok Dang, dalam pertemuan yang digelar di Rumah Jabatan Bupati Mimika, Jalan Cenderawasih SP 3, Distrik Kuala Kencana, Jumat (9/1/2026).

Pertemuan tersebut dihadiri jajaran Forkopimda, perwakilan kedua kelompok konflik, tokoh masyarakat, serta unsur pemerintah daerah. Hasil pertemuan menyepakati penghentian konflik yang telah berlangsung sejak Oktober 2025 dan menelan korban jiwa.

Kesepakatan damai tersebut dituangkan dalam berita acara yang rencananya akan ditandatangani secara resmi pada Senin (12/1/2026). Selanjutnya, perdamaian akan diperkuat melalui prosesi adat patah panah dan belah kayu, sebagai simbol berakhirnya perang adat.

“Setelah penandatanganan berita acara, akan ditindaklanjuti dengan prosesi patah panah dan belah kayu sebagai bukti bahwa perdamaian benar-benar telah tercapai,” ujar Bupati Mimika Johannes Rettob usai pertemuan.

Bupati Johannes Rettob menjelaskan, salah satu faktor utama yang mendorong kedua kelompok sepakat berdamai adalah karena jumlah korban jiwa dari masing-masing pihak telah dinyatakan seimbang berdasarkan hukum adat. Sejak konflik pecah hingga Januari 2026, korban tewas dari kelompok Newegalen dan kelompok Dang masing-masing berjumlah lima orang.

Ali Kabiay: Serangan terhadap Pekerja Sekolah di Yahukimo Adalah Teror Terbuka terhadap Rakyat Sipil

“Dalam pandangan mereka, ini adalah perang adat. Korban dari satu pihak lima orang dan pihak lainnya juga lima orang, sehingga secara adat posisi sudah seimbang dan perang bisa dinyatakan selesai,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa terdapat satu korban perempuan yang meninggal dunia dalam rentang waktu konflik, namun tidak dimasukkan dalam kategori korban perang adat. Selain itu, satu korban yang sempat menjadi polemik karena tertancap puluhan anak panah akhirnya diterima oleh pihak keluarga Newegalen sebagai bagian dari penyelesaian adat.

“Dengan dasar itu, kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri konflik dan berdamai,” tegas Johannes Rettob.

Pemerintah daerah berharap perdamaian ini menjadi titik akhir konflik Kwamki Narama, serta seluruh pihak dapat kembali menjaga keamanan, ketertiban, dan kehidupan sosial masyarakat di Kabupaten Mimika dan sekitarnya.

Samuel Sauwyar Kecam Keras Aksi Kekerasan di Yahukimo, Sebut Tindakan Tidak Beradab dan Melukai Nilai Kemanusiaan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement