Nabire – Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Nabire, Karel Misiro, menyampaikan kecaman keras atas aksi pembunuhan yang menewaskan Frengki, tenaga pengajar di Sekolah Yakpesmi, Kabupaten Yahukimo, pada 2 Februari 2026. Peristiwa tragis tersebut diduga dilakukan oleh TPN-OPM Kodap XVI Yahukimo di bawah pimpinan Elkius Kobak.
Dalam keterangannya kepada awak media, Karel menegaskan bahwa pembunuhan terhadap tenaga pendidik merupakan tindakan keji, tidak manusiawi, dan bertentangan dengan nilai-nilai adat serta kemanusiaan yang dijunjung tinggi masyarakat Papua.
“Ini tindakan yang sangat keji dan tidak berperikemanusiaan. Guru adalah orang yang mencerdaskan anak-anak kita. Membunuh guru sama saja dengan merampas masa depan generasi Papua,” tegas Karel.
Menurutnya, di tengah berbagai keterbatasan fasilitas pendidikan di wilayah pegunungan, kehadiran guru justru sangat dibutuhkan dan harus dilindungi. Ia menilai, aksi kekerasan tersebut tidak hanya menghilangkan satu nyawa, tetapi juga menciptakan trauma mendalam bagi para siswa, rekan tenaga pendidik, dan masyarakat sekitar.
Karel mengingatkan bahwa keamanan tenaga pendidik menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan pendidikan di daerah terpencil. Jika guru merasa terancam, maka proses belajar-mengajar akan terganggu dan berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia Papua di masa depan.
“Kalau situasi seperti ini terus terjadi, siapa yang mau datang mengajar di pedalaman? Pendidikan adalah kunci kemajuan Papua. Kita tidak boleh membiarkan kekerasan menghancurkan harapan anak-anak kita,” ujarnya.
Sebagai pimpinan lembaga adat, Karel Misiro secara tegas mengecam segala bentuk kekerasan terhadap warga sipil. Ia menekankan bahwa tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan yang menyasar masyarakat tidak bersalah, terlebih mereka yang mengabdikan diri untuk dunia pendidikan.
Ia juga mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas kasus tersebut, menangkap pelaku, dan memprosesnya sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Menurutnya, penegakan hukum yang tegas dan transparan sangat diperlukan guna memberikan rasa keadilan bagi keluarga korban serta mencegah terulangnya kejadian serupa.
Lebih jauh, Karel mengajak seluruh tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, serta seluruh elemen masyarakat Papua untuk bersama-sama menjaga keamanan dan kedamaian di tanah Papua.
“Papua adalah rumah kita bersama. Mari kita jaga dengan hati yang damai. Jangan lagi ada korban dari masyarakat sipil, apalagi guru yang sedang mengabdi untuk masa depan anak-anak kita,” pungkasnya.

Komentar