Nabire — Ketua Dewan Adat Wilayah Mee Pago Provinsi Papua Tengah, Wolter Belau, mengecam keras aksi pembunuhan brutal yang terjadi di Yahukimo. Ia menilai tindakan tersebut sebagai perbuatan tidak manusiawi yang bertentangan dengan nilai adat, nilai kemanusiaan, serta hak asasi manusia (HAM).
Sebagai pemangku adat Mee Pago, Wolter menegaskan bahwa kekerasan semacam ini tidak sejalan dengan nilai-nilai luhur adat Papua yang menjunjung tinggi kehidupan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sesama manusia.
“Tindakan kekerasan terhadap warga sipil, apalagi tenaga guru dan tenaga kesehatan, jelas bertentangan dengan adat dan nilai kemanusiaan yang kami pegang teguh,” tegasnya.
Ia secara khusus menyerukan kepada kelompok TPN-OPM di Yahukimo agar segera menghentikan seluruh aksi kekerasan, terutama pembunuhan terhadap guru, tenaga kesehatan, dan masyarakat sipil yang tidak terlibat dalam konflik apa pun.
Menurut Wolter, keberadaan guru dan tenaga kesehatan sangat vital bagi kehidupan masyarakat di pedalaman Papua. Mereka hadir untuk memberikan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Karena itu, segala bentuk ancaman maupun kekerasan terhadap tenaga pelayanan publik dinilai hanya akan memperburuk kondisi masyarakat, khususnya anak-anak yang membutuhkan pendidikan dan warga yang membutuhkan layanan kesehatan.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta aparat keamanan untuk bersama-sama menjaga situasi tetap kondusif dan memastikan perlindungan bagi warga sipil di wilayah rawan konflik.
Pernyataan ini menjadi penegasan sikap tegas Dewan Adat Mee Pago bahwa adat Papua berdiri di pihak kemanusiaan, kedamaian, dan perlindungan terhadap setiap nyawa manusia tanpa memandang latar belakang apa pun.

Komentar