Mimika — Kepala Suku Besar Wate, Otis Monei, menyampaikan kecaman keras atas serangkaian aksi pembunuhan yang menimpa pilot, guru, tenaga kesehatan, pengemudi ojek, hingga pendulang di Tanah Papua.
Dalam keterangannya kepada awak media, Otis menegaskan bahwa tindakan kekerasan terhadap warga sipil tersebut merupakan kejahatan yang sangat keji, tidak berperikemanusiaan, serta bertentangan dengan nilai agama dan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Kami menyampaikan duka cita yang sebesar-besarnya kepada keluarga korban dan seluruh masyarakat, khususnya dunia pendidikan. Pembunuhan ini adalah kejahatan yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab dan bertentangan dengan undang-undang yang berlaku. Ini perbuatan yang menjijikkan dan mencederai nilai kemanusiaan,” tegasnya.
Ia menyoroti salah satu korban, Frengki, yang dikenal sebagai tenaga pengajar dan mendedikasikan hidupnya untuk mendidik generasi muda Papua.
Menurut Otis, guru memiliki peran sentral dalam mencerdaskan anak-anak Papua agar mampu bersaing dan memiliki masa depan yang lebih baik. Karena itu, tenaga pendidik seharusnya mendapat perlindungan, bukan justru menjadi sasaran kekerasan.
“Guru-guru seharusnya kita lindungi, bukan dibunuh. Mereka datang untuk mencerdaskan pelajar Papua supaya sukses di masa depan. Tanpa guru, Papua akan kehilangan arah dan harapan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menilai aksi kekerasan yang menyasar tenaga pelayanan masyarakat, seperti guru dan tenaga kesehatan, hanya akan memperburuk kondisi sosial serta menghambat pembangunan sumber daya manusia di Papua.
Otis juga mengajak seluruh elemen masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan aparat keamanan untuk bersama-sama menjaga situasi tetap aman dan mencegah kekerasan serupa terulang kembali.
Menurutnya, keamanan bagi tenaga pendidikan, kesehatan, serta pekerja pelayanan masyarakat harus menjadi prioritas agar masyarakat di wilayah pedalaman tetap mendapatkan hak dasar mereka.
Ia berharap aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas setiap kasus pembunuhan warga sipil secara profesional agar para pelaku mendapat hukuman sesuai hukum yang berlaku.
Pernyataan ini sekaligus menjadi seruan moral agar seluruh pihak menghentikan kekerasan dan menempatkan keselamatan warga sipil sebagai kepentingan utama demi masa depan Papua yang damai dan bermartabat.

Komentar