Mimika — Kepala Suku Besar Suku Kamoro Kabupaten Mimika, Timotius Samin, menyampaikan kecaman keras terhadap aksi pembunuhan yang menewaskan Frengki, tenaga pengajar di Sekolah Yakpesmi, Kabupaten Yahukimo, yang terjadi pada 2 Februari 2026. Ia menilai tindakan kekerasan tersebut sebagai perbuatan keji, tidak berperikemanusiaan, serta bertentangan dengan nilai-nilai keimanan dan ajaran Alkitab.
Dalam pernyataannya kepada media, Timotius Samin menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban, rekan-rekan tenaga pendidik, serta seluruh masyarakat Yahukimo yang terdampak secara psikologis akibat peristiwa tragis tersebut.
“Kami menyampaikan duka sebesar-besarnya atas meninggalnya saudara Frengki. Ini adalah kejahatan yang sangat keji, tidak sesuai dengan ajaran Alkitab, dan sama sekali tidak mencerminkan nilai kemanusiaan,” ujar Timotius.
Ia menegaskan bahwa guru adalah pejuang kemanusiaan yang mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan generasi muda Papua. Kehadiran guru, khususnya di daerah pedalaman seperti Yahukimo, sangat penting dalam membentuk masa depan anak-anak Papua agar kelak menjadi pribadi yang berpendidikan, mandiri, dan mampu membangun tanah kelahirannya.
“Guru-guru datang ke Papua bukan untuk disakiti atau dibunuh. Mereka datang untuk mendidik anak-anak kita supaya kelak bisa menjadi orang-orang sukses di masa depan. Mereka harus dilindungi, bukan dijadikan korban,” tegasnya.
Timotius Samin juga menyesalkan masih terjadinya kekerasan terhadap warga sipil, khususnya tenaga pendidik dan tenaga kesehatan, yang sejatinya menjalankan tugas mulia dan tidak terlibat dalam konflik apa pun. Menurutnya, tindakan seperti ini hanya akan memperpanjang penderitaan masyarakat Papua dan menghambat proses pembangunan sumber daya manusia.
Sebagai tokoh adat Suku Kamoro, ia mengajak seluruh elemen masyarakat Papua untuk menjaga nilai kehidupan, persaudaraan, dan kasih, sebagaimana diajarkan dalam adat dan iman. Ia menegaskan bahwa tanah Papua adalah tanah yang diberkati Tuhan, sehingga segala bentuk kekerasan dan pertumpahan darah harus dihentikan.
“Papua adalah tanah yang Tuhan berkati. Tidak ada ajaran adat, tidak ada ajaran iman yang membenarkan pembunuhan. Kita semua punya tanggung jawab moral untuk menjaga kehidupan dan masa depan anak-anak Papua,” katanya.
Timotius juga mendorong aparat keamanan dan penegak hukum agar mengusut tuntas kasus pembunuhan ini dan memproses para pelaku sesuai dengan hukum yang berlaku, demi memberikan rasa keadilan bagi korban dan keluarganya, serta menciptakan rasa aman bagi masyarakat luas.
Menutup pernyataannya, Timotius Samin mengajak semua pihak untuk menghentikan kekerasan dan membangun Papua dengan cara-cara yang bermartabat, damai, dan beradab.
“Mari kita hentikan tindakan menjijikkan ini. Lindungi guru-guru kita, lindungi masyarakat sipil, dan mari bersama-sama membangun Papua agar anak-anak kita bisa meraih masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Komentar