Nabire – Gelombang kekerasan yang terus terjadi di berbagai wilayah Papua memicu keprihatinan mendalam dari tokoh adat dan kalangan pemuda. Sejumlah insiden berdarah—mulai dari pembunuhan pekerja sipil di Yahukimo, penembakan aparat di Mimika, hingga tewasnya pilot dan kopilot pesawat perintis di Boven Digoel—dinilai telah melampaui batas kemanusiaan.
Bagi banyak pihak, rangkaian peristiwa tersebut bukan lagi sekadar dinamika konflik bersenjata, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan masyarakat sipil serta masa depan generasi Papua.
Sejumlah organisasi masyarakat seperti Barisan Merah Putih RI, Pemuda Adat Saireri II, Badan Musyawarah Adat Papua Papua Tengah, Forum Peduli Masyarakat Adat Papua, serta Aliansi Pemuda Papua Papua Tengah menyatakan sikap tegas mengecam kekerasan yang terus berulang.
Dalam pernyataan sikap bersama, Wakil Ketua DPD BMP RI Papua Tengah, Samuel Sauwyar, menegaskan bahwa setiap pertumpahan darah telah mencederai nilai-nilai luhur masyarakat Papua.
“Tanah Papua adalah tanah Injil dan wilayah yang diberkati. Setiap tetesan darah yang tumpah di atas tanah ini adalah noda yang mencoreng kesucian Papua,” tegasnya.
Para tokoh juga menekankan bahwa kekerasan tidak pernah menjadi solusi, melainkan hanya memperpanjang penderitaan masyarakat kecil yang tidak terlibat dalam konflik.
Mereka mengajak seluruh pihak untuk menghentikan aksi kekerasan dan lebih mengedepankan dialog, pendekatan damai, serta menjaga persatuan demi terciptanya situasi yang aman dan kondusif di Tanah Papua.
Harapannya, semua elemen masyarakat dapat bersatu menjaga kedamaian, sehingga pembangunan dan kesejahteraan di Papua dapat berjalan tanpa gangguan konflik yang berkepanjangan.

Komentar