Timika — Fenomena hujan salju kembali terjadi di wilayah Tembagapura, Kabupaten Mimika. Meski tergolong langka, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Timika menegaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan fenomena alam yang wajar mengingat kondisi geografis dan suhu udara di kawasan pegunungan tinggi Papua.
Forecaster BMKG Timika, Steven Yawan, menjelaskan bahwa Tembagapura berada di wilayah pegunungan dengan ketinggian lebih dari 3.000 kaki di atas permukaan laut, sehingga memiliki suhu udara yang jauh lebih rendah dibandingkan wilayah Timika yang berada di dataran rendah.
Berdasarkan pantauan BMKG, awan yang berkembang di wilayah Tembagapura didominasi oleh awan menengah. Kondisi suhu yang sangat dingin membuat uap air yang turun ke permukaan tidak mencair, sehingga tetap berbentuk salju. Sementara itu, di Kota Timika hanya terjadi hujan gerimis karena butiran presipitasi telah mencair sebelum mencapai permukaan tanah.
“Wilayah Tembagapura lebih dingin, sehingga uap air yang jatuh tidak mencair dan berubah menjadi salju. Semakin tinggi suatu wilayah, suhu udaranya akan semakin rendah,” jelas Steven.
Ia menambahkan bahwa perbedaan suhu antara Timika dan Tembagapura dipengaruhi oleh faktor topografi. Suhu rata-rata di Kota Timika dapat mencapai 30 derajat Celsius, sedangkan di Tembagapura berkisar antara 8 hingga 14 derajat Celsius. Bahkan, di kawasan Grasberg, suhu udara saat fenomena tersebut terjadi diperkirakan berada pada kisaran 6 hingga 8 derajat Celsius.
Suhu yang sangat rendah tersebut menyebabkan presipitasi tetap dalam bentuk salju hingga mencapai daratan. Kondisi ini, menurut BMKG, bukan merupakan kejadian ekstrem, melainkan fenomena alam yang bisa terjadi di wilayah pegunungan tinggi Papua.
Sementara itu, BMKG juga mencatat bahwa suhu udara di Kota Timika belakangan terasa lebih panas, dengan suhu maksimal mencapai 35 derajat Celsius. Hal ini dipengaruhi oleh peralihan musim angin dari angin Timur ke angin Barat, yang menyebabkan kondisi udara menjadi lebih kering, meskipun hujan masih tetap terjadi akibat faktor lokal.
BMKG memastikan bahwa seluruh kondisi cuaca tersebut masih dalam kategori normal dan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang serta mengikuti informasi resmi cuaca dari instansi terkait.

Komentar