Mimika — Tokoh adat Papua sekaligus Kepala Suku Kerukunan Moni di Kabupaten Mimika, Benyamin Hanau, menyampaikan keprihatinan dan kecaman keras atas kasus pembunuhan yang terjadi di Kabupaten Yahukimo. Peristiwa tersebut menewaskan Frengki, seorang pekerja di Sekolah YPK (Yakpesmi) yang berlokasi di Jalan Saradela, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, pada 2 Februari 2026.
Pembunuhan tersebut diduga dilakukan oleh kelompok KSTP Kodap XVI Yahukimo yang dipimpin oleh Elkius Kobak. Korban diketahui merupakan warga sipil yang bekerja di sektor pendidikan, dan tidak memiliki keterlibatan dalam konflik bersenjata.
Dalam pernyataannya, Benyamin Hanau menegaskan bahwa tindakan kekerasan terhadap warga sipil—terutama guru, pekerja sekolah, pendeta, dan tukang ojek—merupakan perbuatan yang tidak dapat dibenarkan dalam alasan apa pun, baik politik maupun perjuangan bersenjata.
“Saya sebagai kepala suku dan orang tua adat Papua sangat menyesalkan dan mengecam keras pembunuhan ini. Saya berpesan dengan tegas kepada TPN-OPM di Yahukimo agar menghentikan tindakan kekerasan dan tidak lagi membuat ulah dengan membunuh warga sipil,” tegas Benyamin.
Ia menyampaikan bahwa membunuh manusia tidak bisa disamakan dengan menyembelih hewan. Menurutnya, cara-cara kekerasan yang kejam telah mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan merusak martabat orang Papua sendiri.
“Jangan membunuh manusia seperti memotong babi atau memotong daging ayam. Itu perbuatan yang tidak beradab dan bertentangan dengan nilai adat, nilai agama, dan nilai kemanusiaan,” ujarnya dengan nada prihatin.
Benyamin Hanau menegaskan bahwa Tanah Papua adalah tanah Injil, tanah damai, tanah yang diberkati Tuhan, dan bukan tempat untuk menumpahkan darah sesama manusia. Ia mengingatkan bahwa Injil telah membawa pesan kasih, pengampunan, dan hidup rukun, yang seharusnya menjadi pegangan bersama seluruh orang Papua.
“Tanah Papua ini sudah diberkati Tuhan. Ini tanah Injil, tanah damai, bukan tanah pembunuhan. Saya menyampaikan pesan ini agar tidak ada lagi tindakan kekerasan di tanah yang Tuhan sudah berkati,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa korban kekerasan selama ini justru adalah masyarakat kecil yang sedang berjuang hidup—guru yang mendidik anak-anak Papua, pekerja yang mencari nafkah, pendeta yang melayani umat, dan tukang ojek yang menghidupi keluarganya.
“Mereka ini bukan musuh siapa pun. Mereka datang untuk membantu orang Papua sendiri. Guru mendidik anak-anak kita, pendeta melayani rohani kita, tukang ojek cari makan untuk keluarga. Kenapa harus dibunuh?” ujar Benyamin.
Lebih lanjut, Benyamin Hanau mengajak seluruh pihak untuk kembali pada nilai dasar sebagai sesama makhluk ciptaan Allah. Menurutnya, hidup rukun, saling menghormati, dan saling membantu adalah jati diri sejati orang Papua yang diwariskan oleh leluhur.
“Kita semua ini ciptaan Tuhan. Tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain. Seharusnya kita hidup rukun, saling membantu, dan saling menghormati, bukan saling membunuh,” tuturnya.
Menutup pernyataannya, Benyamin Hanau secara khusus menyerukan kepada pimpinan dan anggota TPN-OPM di Yahukimo untuk menghentikan kekerasan bersenjata dan tidak lagi menjadikan masyarakat sipil sebagai korban.
“Saya minta dengan sungguh-sungguh, hentikan kekerasan. Jangan lagi bunuh orang di Tanah Papua. Mari jaga tanah ini sebagai tanah damai, tanah Injil, tanah yang diberkati Tuhan,” pungkasnya.

Komentar