Hukum & Kriminal Nabire
Beranda / Nabire / Samuel Sauwyar Kecam Keras Aksi Kekerasan di Yahukimo, Sebut Tindakan Tidak Beradab dan Melukai Nilai Kemanusiaan

Samuel Sauwyar Kecam Keras Aksi Kekerasan di Yahukimo, Sebut Tindakan Tidak Beradab dan Melukai Nilai Kemanusiaan

Nabire, Papua Tengah – Aksi kekerasan brutal yang terjadi di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, pada Senin (2/2/2026), menuai kecaman keras dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Wakil Ketua I Dewan Pimpinan Daerah Barisan Merah Putih Republik Indonesia (DPD BMP RI) Provinsi Papua Tengah, Samuel Sauwyar, yang secara tegas mengutuk tindakan tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Samuel saat dimintai keterangan di Nabire, Papua Tengah, dalam pertemuan bersama sejumlah tokoh masyarakat pada Kamis malam (5/2/2026). Ia menilai peristiwa tersebut sebagai tindakan tidak manusiawi yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan menciptakan ketakutan di tengah masyarakat.

“Ini adalah tindakan tidak manusiawi dan sangat merugikan banyak pihak. Saya mengecam keras aksi keji ini, terlebih karena telah menghilangkan nyawa orang yang tidak bersalah,” tegas Samuel Sauwyar.

Menurutnya, kekerasan yang menargetkan warga sipil, terlebih mereka yang sedang bekerja dan mengabdikan diri untuk kepentingan pendidikan, tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai bentuk perbuatan tidak beradab yang bertentangan dengan nilai moral, hukum, serta prinsip hidup damai yang selama ini dijunjung masyarakat Papua.

Peristiwa tragis itu mengakibatkan Frengki (55), seorang pekerja di Sekolah Yakpesmi Yahukimo, meninggal dunia akibat serangan senjata tajam. Korban diketahui sedang menjalankan aktivitasnya di lingkungan sekolah sebelum akhirnya menjadi sasaran kekerasan. Selain menewaskan korban, para pelaku juga dilaporkan melakukan pengrusakan terhadap kendaraan serta fasilitas sekolah, yang semakin memperparah dampak kejadian tersebut.

Ali Kabiay: Serangan terhadap Pekerja Sekolah di Yahukimo Adalah Teror Terbuka terhadap Rakyat Sipil

Samuel menilai, tindakan tersebut bukan hanya merenggut nyawa seseorang, tetapi juga mengganggu proses pendidikan serta menimbulkan trauma bagi guru dan siswa yang berada di lokasi saat kejadian.

“Kejadian ini bukan hanya soal satu korban. Ini menyangkut rasa aman masyarakat, menyangkut masa depan anak-anak yang sedang belajar. Sekolah adalah tempat mencerdaskan generasi, bukan tempat teror,” ujarnya.

Ia juga mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak cepat, profesional, dan transparan dalam mengusut tuntas kasus tersebut agar para pelaku segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. Menurutnya, penegakan hukum yang tegas sangat penting untuk memberikan rasa keadilan bagi keluarga korban sekaligus mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.

Samuel turut mengajak seluruh elemen masyarakat Papua untuk tidak terprovokasi dan tetap menjaga persatuan serta keamanan lingkungan masing-masing. Ia menekankan bahwa kekerasan tidak akan membawa solusi, melainkan hanya memperpanjang penderitaan masyarakat.

“Kita semua punya tanggung jawab menjaga tanah Papua tetap aman dan damai. Jangan sampai tindakan segelintir orang merusak kehidupan bersama,” pungkasnya.

Pengiriman 13 Ton Kopra ke Surabaya Buka Peluang Pasar Nasional bagi Kelapa Papua Tengah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement