Dogiyai — Tokoh Intelektual Kabupaten Dogiyai, Yohan Kegakoto, menyampaikan kecaman keras atas peristiwa pembunuhan yang menewaskan Frengki, tenaga pengajar di Sekolah Yakpesmi, Kabupaten Yahukimo, yang terjadi pada 2 Februari 2026. Ia menilai aksi kekerasan tersebut sebagai perbuatan biadab yang tidak hanya mencederai nilai kemanusiaan, tetapi juga merusak sendi-sendi kehidupan sosial dan pendidikan di Tanah Papua.
Dalam pernyataannya kepada media, Yohan Kegakoto menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban serta seluruh komunitas pendidikan di Yahukimo. Ia menegaskan bahwa pembunuhan terhadap guru, tenaga kesehatan, dan warga sipil—termasuk warga non Orang Asli Papua (non-OAP)—merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.
“Saya mengutuk keras kejadian pembunuhan terhadap guru dan juga kekerasan yang selama ini menimpa tenaga kesehatan serta warga sipil non-OAP di Kabupaten Yahukimo. Mereka datang untuk bekerja, mengabdi, dan membantu masyarakat, bukan untuk menjadi korban kekerasan,” tegas Yohan.
Menurutnya, guru dan tenaga kesehatan adalah pilar utama pelayanan kemanusiaan di Papua, khususnya di daerah pedalaman. Kehadiran mereka sangat dibutuhkan untuk mencerdaskan anak-anak Papua, meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, serta membuka jalan bagi masa depan yang lebih baik. Karena itu, segala bentuk kekerasan terhadap kelompok tersebut merupakan kejahatan serius yang berdampak luas.
Yohan Kegakoto juga mendesak aparat keamanan dan penegak hukum agar bertindak cepat, profesional, dan transparan dalam mengusut tuntas kasus pembunuhan tersebut. Ia meminta agar pelaku segera diidentifikasi, ditangkap, dan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Kami berharap pihak keamanan dan penyidik benar-benar serius mengungkap siapa pelakunya dan memprosesnya secara hukum. Ini penting bukan hanya untuk keadilan bagi korban, tetapi juga untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Yohan mengajak seluruh elemen masyarakat Papua—tokoh adat, tokoh agama, pemuda, dan seluruh komponen masyarakat—untuk bersama-sama menolak kekerasan dan menjaga kedamaian di Tanah Papua. Ia mengingatkan bahwa Papua adalah tanah yang diberkati Tuhan, sering disebut sebagai ‘surga kecil yang jatuh ke bumi’, yang seharusnya dijaga dengan kasih, persaudaraan, dan saling menghormati.
“Papua ini surga kecil yang Tuhan titipkan kepada kita. Kalau kita terus biarkan kekerasan terjadi, berarti kita sedang merusak berkat itu sendiri. Mari kita jaga Papua bersama-sama agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa depan,” katanya.
Ia menekankan bahwa masa depan Papua sangat bergantung pada generasi mudanya, dan generasi muda hanya bisa tumbuh dengan baik jika mendapatkan pendidikan dan layanan kesehatan dalam situasi yang aman dan damai. Kekerasan, menurutnya, hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat dan menghambat kemajuan Papua.
Menutup pernyataannya, Yohan Kegakoto kembali menegaskan seruannya untuk menghentikan segala bentuk kekerasan di Tanah Papua serta membangun dialog, persaudaraan, dan kerja sama demi Papua yang damai, aman, dan bermartabat.
“Tidak ada perjuangan yang dibenarkan dengan membunuh guru, nakes, dan masyarakat sipil. Mari kita jaga kehidupan, jaga kemanusiaan, dan jaga Papua sebagai rumah bersama,” pungkasnya.

Komentar