Nabire Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Honai Cista, Cahaya Pendidikan dari Pedalaman Yaro

Honai Cista, Cahaya Pendidikan dari Pedalaman Yaro

Perlahan namun pasti, Asrama Honai Cista membawa perubahan nyata bagi anak-anak dari kampung-kampung terpencil di Distrik Yaro, Nabire. Anak-anak yang sebelumnya harus berjalan berjam-jam menembus hutan dan sungai demi bersekolah, kini dapat belajar dengan tenang, tinggal layak, dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung masa depan mereka.

Lebih dari sekadar tempat tinggal, Honai Cista menjadi ruang pembentukan karakter. Disiplin, tanggung jawab, dan semangat belajar tumbuh dalam keseharian anak-anak asrama. Sejumlah siswa bahkan berhasil melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi—sebuah capaian yang dahulu nyaris mustahil.

Di balik perubahan ini berdiri Agustina Taihuttu, Kepala SD Negeri Muko Tanah Merah. Saat pertama bertugas pada 2016, sekolah nyaris tidak berfungsi. Murid tidak ada, bangunan tertutup hutan, tanpa listrik dan fasilitas pendukung. Namun panggilan sebagai pendidik membuatnya bertahan.

“Saya datang dengan hati ikhlas,” kenangnya. Langkah awal Agustina adalah menemui kepala suku, tokoh adat, pendeta, dan masyarakat, menyampaikan tekad membangun kembali pendidikan di wilayah tersebut. Saat itu ia menjadi satu-satunya guru dan mendapati banyak anak putus sekolah serta belum mampu berbahasa Indonesia.

Melihat kondisi tersebut, Agustina mendirikan asrama kecil di belakang rumah dinasnya. Dari ruang sederhana itulah proses perubahan dimulai. Anak-anak belajar pagi hingga malam, mendapatkan bimbingan tambahan, perlengkapan sekolah, bahkan kebutuhan dasar yang sebelumnya tak mereka miliki.

Ali Kabiay: Serangan terhadap Pekerja Sekolah di Yahukimo Adalah Teror Terbuka terhadap Rakyat Sipil

Perubahan pun perlahan terlihat. Jumlah murid meningkat, guru mulai berdatangan, dan perhatian pemerintah daerah tumbuh. Dari sekitar 30 siswa, kini SD Negeri Muko Tanah Merah memiliki sekitar 220 siswa dan berkembang menjadi sekolah model di Distrik Yaro.

Asrama Honai Cista kemudian diperkuat dengan dukungan Bosch Indonesia, yang menyediakan fasilitas asrama layak dan bantuan 15 unit laptop untuk pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). “Walaupun kami di daerah pinggiran, anak-anak bisa bersaing dengan sekolah di kota,” ujar Agustina.

Dampak paling nyata terlihat dari kisah para alumni. Salah satunya Penus Morim, penghuni asrama angkatan pertama, yang kini bekerja di Dinas Perhubungan dan bertugas di bandara. Alumni lainnya melanjutkan studi hingga ke Manokwari dan Medan.

Meski demikian, tantangan masih ada. Keterlibatan orang tua di asrama masih sangat terbatas, sehingga pengelolaan sering bergantung pada dedikasi para pendidik. Untuk menjawab hal itu, Bosch bersama masyarakat mengembangkan program pertanian berkelanjutan guna menopang kebutuhan pangan dan membangun kemandirian ekonomi asrama.

Bagi Bosch Indonesia, Honai Cista bukan sekadar program bantuan, melainkan perjalanan menemani proses tumbuh. Sebuah bukti bahwa akses pendidikan yang setara mampu mengubah arah hidup anak-anak pedalaman, sejalan dengan filosofi Invented for life—menghadirkan solusi yang berdampak nyata bagi kehidupan.

Samuel Sauwyar Kecam Keras Aksi Kekerasan di Yahukimo, Sebut Tindakan Tidak Beradab dan Melukai Nilai Kemanusiaan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement